Suara.com - Salah satu universitas bergengsi di India menawarkan kursus untuk mengajarkan dokter dalam mengahadapi orang yang mengaku melihat atau kerasukan hantu.
Kursus tersebut berlangsung selama 6 bulan di Banaras Hindu University (BHU) di kota utara Varanasi yang akan dimulai pada Januari 2020.
Para pejabat kampus mengatakan kursus tersebut akan fokus mempelajari gangguan psikosomatik yang sering disangka paranormal sebagai bentuk kerasukan hantu.
Kursus akan berlangsung di fakultas Ayurveda yang akan mempelajari perihal sistem pengobatan dan penyembuhan Hindu kuno. Bahkan pihak kampus BHU juga mengatakan telah mendirikan unit Bhoot Vidya yang fokus pada studi hantu.
"Bhoot Vidya akan fokus pada gangguan psikosomatis, penyakit yang penyebabnya tidak jelas, penyakit pikiran atau kondisi psikis," kata Yamini Bhushan Tripathi, dekan fakultas Ayurveda dikutip dari BBC International.
Yamini Bhushan juga menambahkan bahwa BHU adalah universitas pertama di India yang menawarkan kursus tersebut. Kursus ini mengajarkan dokter tentang pengobatan Ayurvedic untuk mengobati penyakit yang berkaitan dengan hantu.
Terapi Ayurvedic umumnya meliputi obat-obatan herbal, perubahan pola makan, pijatan, pernapasan dan bentuk olahraga lainnya.
Menurut sebuah studi tahun 2016 oleh Institut Nasional Kesehatan Mental dan Nauroscience (Nimhans), hampir 14 persen orang India sakit mental. Pada 2017, WHO pun memperkirakan bahwa 20 persen orang India mungkin menderita depresi pada satu momen di hidupnya.
Tetapi, masih banyak orang yang belum menyadari tentang masalah tersebut. Di sisi lain, stigma sosial yang meluas membuat hanya sedikit orang yang mencari bantuan atau perawatan profesional kesehatan mental di India.
Baca Juga: Yakin Makeup yang Kamu Punya Asli?
Apalagi masyarakat di daerah pedesaan dan status ekonomi rendah. Mereka lebih memilih mengunjungi dukun atau paranormal dengan harapan cara itu bisa membantu menyembuhkan penyakit mental mereka.
Kursus Bhoot Vidya yang menangani orang yang merasa sering melihat atau kerasukan hantu ini pun mulai dipertanyakan di media sosial. Beberapa orang menunjukkan bahwa pengobatan dan rehabilitasi adalah metode yang lebih tepat untuk menangani masalah kesehatan mental.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status "Cucu Nabi" Demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
Terkini
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien
-
Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi
-
Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan
-
Heboh Wanita Bekasi Tunjukkan Wajah Khas Gagal Ginjal, Waspadai Ciri-cirinya!