Suara.com - Meski Mudah Menular, Virus Corona Bukan Penyebab Tunggal Kematian di China
Virus corona Wuhan alias 2019-nCoV sudah menginfeksi lebih dari 2.700 orang, dengan 80 di antaranya meninggal dunia. Meski menginfeksi banyak orang dan mudah menular, pakar kesehatan berpendapat tingkat kefatalan penyakit ini tidak separah MERS atau SARS yang masih keluarga coronavirus.
Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia, Dr. Daeng M Faqih mengatakan belum ada laporan yang mengatakan pasien meninggal dunia disebabkan tunggal dan murni karena virus corona. Kasus kematian yang tercatat rata-rata terjadi pada pasien yang memiliki penyakit lain seperti diabetes, liver, gagal ginjal, hingga jantung.
"Penyebab kematian karena infeksi virus corona ini sekarang belum dilaporkan yang murni disebabkan karena virus corona, tapi karena ada penyakit pendamping atau komorbid istilahnya," kata Dr. Daeng di Jakarta, Rabu, (29/1/2020).
Pada akhirnya, ia mengatakan, penyakit pendamping atau penyerta tersebut, terinfeksi virus corona, bergabung menjadi satu dan membuat penyakit menjadi semakin parah. "Itu yang menyebabkan kematian."
Untuk itu, Dr. Daeng menekankan pentingnya kewaspadaan pada kelompok rentan seperti anak-anak, orangtua, serta seseorang yang memiliki riwayat dengan penyakit kronis serta orang dengan daya tahan tubuh yang rendah.
Ditemui dalam acara berbeda, Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi dari RSCM, dr. Adityo Susilo, mengatkan bahwa virus yang teridentifikasi sejak awal Desember 2019 tersebut memiliki risiko kematian yang lebih rendah daripada penyakit virus lainnya yang pernah mewabah yaitu SARS dan MERS.
"Risiko kematian kasus SARS adalah 10 persen meninggal dunia, Mers 35 persen. Berdasarkan hitung-hitungan kasar, virus corona sebenarnya (risiko kematian) 3 persen. Virusnya tersebar cepat tapi angka risiko kematiannya tidak sebesar Sars apalagi Mers," tambah dr. Adityo.
Baca Juga: Pakar Pastikan Masker Biasa Cukup Untuk Halau Paparan Virus Corona
Ia melanjutkan, baik SARS dan Mers belum ditemukan obatnya. Kedua penyakit tersebut diatasi dengan memberikan pengobatan suportif dengan memberikan vitamin daya tahan tubuh agar tubuh dapat menyerang virus.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
Terkini
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien
-
Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi
-
Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan
-
Heboh Wanita Bekasi Tunjukkan Wajah Khas Gagal Ginjal, Waspadai Ciri-cirinya!