Suara.com - Perdebatan antara selebgram Revina VT dengan 'Doktor Psikologi' berinisial DS tengah menjadi buah bibir di media sosial. Hal ini bermula dari 'Doktor Psikologi' itu mengaku bisa menyembuhkan pasien bipolar.
Revina VT melalui Instagramnya mengatakan tidak percaya bahwa 'Doktor Psikologi' itu adalah seorang psikolog. Bahkan ia juga meragukan metode pengobatannya.
"Kesimpulannya @dedys****** bukan psikolog, beliau nggak punya lisensi apapun untuk praktek sebagai psikolog. Sertifikasi sebagai psikoterapis pun patut di pertanyakan," tulis Revina VT melalui IG Story.
Tak hanya itu, Revina VT juga menunjukkan bukti chatting antara 'Dokter Psikologi' dengan mantan pasiennya. Dalam bukti chat itu, Revina mempermasalahkan sikap 'Doktor Psikologi' yang melarang pasiennya pergi ke psikiater.
"Ada yang melarang ke psikiater loh. Padahal sudah ada diagnosanya, keren banget @dedys****** merasa lebih jago," ujarnya lagi.
Lantas, apa perbedaan psikolog dan psikiater? Secara umum dilansir oleh Psychology Today, psikiater dan psikolog sama-sama terlibat dalam terapi. Namun untuk lebih jelasnya, mari simak perbedaannya berikut ini.
1. Psikiater
Psikiater menempuh pendidikan sekolah kedokteran yang sama dengan dokter medis lainnya, seperti dokter penyakit dalam atau dokter anak. Karena itu, mereka memegang gelar doktor kedokteran, MD.
Ruang lingkupnya sebagai psikiater, mempelajari semua sistem dan fungsi dalam tubuh manusia, riwayat dan keterampilan pemeriksaan fisik dan rencana perawatan khusus untuk setiap kondisi medis.
Baca Juga: Heboh Soal Dysphoria Gender Lucinta Luna, Penyakit Ini Bisa Memicu Depresi
Setelah selesai sekolah, psikiater akan menjalani pelatihan residensi 4 tahun untuk mengambil spesialisasi dalam psikiatri. Mereka akan belajar tentang diagnosis dan modalitas pengobatan setiap kondisi psikologis, seperti bipolar dan skizofrenia.
Psikiater mendiagnosis gangguan kesehatan mental secara klinis menggunakan kriteria dari Manual Diagnostik dan Statistik American Psychiatric Association of Mental Disorders , Fifth Edition (DSM-5), memanfaatkan hasil pengujian psikologis , pemindaian tomografi terkomputerisasi (CT) dan pengujian kimia klinis.
Psikiater juga bertanggung jawab untuk mendiagnosis gangguan mental dan mengelola obat-obatan, karena keahlian mereka berfokus pada ketidakseimbangan kimiawi di otak. Pasien sering dirujuk ke psikiater oleh dokter perawatan primer mereka atau oleh psikolog untuk memastikan bahwa mereka menggunakan obat yang tepat dan dosis yang tepat.
2. Psikolog
Sedangkan psikolog, tidak termasuk kedokteran seperti psikiater. melainkan mereka masuk sekolah pascasarjana dan mendapatkan gelar doktor, seperti Doctor of Philosophy (Ph.D.) atau Doctor of Psychology (Psy.D.) Psikolog dapat menggunakan kriteria DSM untuk mendiagnosis, tetapi mereka tidak dilatih dalam prinsip medis umum.
Sebaliknya, mereka bisa menggunakan pengujian psikologis, seperti Inventory Personality Multiphasic Minnesota (MMPI). Psikolog adalah ahli dalam memberikan terapi psikososial dan berkonsentrasi pada pikiran dan emosi pasien.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 4 HP Motorola Harga Rp1 Jutaan, Baterai Jumbo hingga 7.000 mAh
Pilihan
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
-
Mandiri Tunas Finance Terancam Sanksi OJK Buntut Debt Collector Tusuk Advokat
Terkini
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang
-
Cuma Pakai Dua Jari, Dokter Ungkap Cara Deteksi Sakit Jantung dari Raba Nadi