Suara.com - Dysphoria gender yang dialami oleh Lucinta Luna menjadi perbincangan di tengah kasus narkobanya. Gangguan identitas gender ini banyak dialami oleh transgender atau orang yang tidak sesuai gendernya.
Gangguan identitas gender ini membuat seseorang merasa tidak nyaman atau tertekan, karena identitas gendernya berbeda dengan jenis kelaminnya sejak lahir.
Tetapi dilansir dari Web MD, dysphoria gender ini sulit untuk diobati. Orang dengan dysphoria gender memiliki tingkat kondisi mental yang lebih tinggi.
Beberapa peneliti memperkirakan sekitar 71 persen orang dengan dysphoria gender akan mengalami masalah kesehatan mental lain di dalam hidupnya. Masalah kesehatan mental ini termasuk gangguan mood, gangguan kecemasan, skizofrenia, depresi, penyalahgunaan zat, gangguan makan hingga upaya bunuh diri.
Sebenarnya dysphoria gender disebut sebagai gangguan kejiwaan masih menjadi kontroversial. Tetapi dilansir dari Aappublications.org, kondisi ini memang sering berkaitan dengan masalah kesehatan mental lainnya.
Selain masalah kesehatan mental yang disebutkan sebelumnya, dysphoria gender juga bisa menyebabkan distres atau gangguan signifikan secara klinis dalam bidang fungsi sosial, pekerjaan dan lainnya.
Dysphoria gender dimanifestasikan dalam berbagai cara, termasuk keinginan kuat untuk diperlakukan sebagai jenis kelamin lain atau menghilangkan karakteristik jenis kelamin seseorang.
Banyak kasus, anak-anak yang mengalami dysphoria gender tidak mengungkapkan perasaannya sampai masa remaja. Sekitar 80 persen anak-anak pun memenuhi kriteria untuk dysphoria gender justru mengembangkan orientasi non-heteroseksual saat remaja.
Dokter anak pun menyarankan agar seseorang segera mencari bantuan medis ketika mengalami dysphoria gender. Bahkan keluarganya juga membutuhkan konseling untuk mendukung anak-anak yang mengalami gangguan identitas gender.
Baca Juga: Jangan Sembarangan, Konsumsi 5 Makanan Ini Tidak Tepat Waktu Bisa Berbahaya
Karena, dukungan orangtua pada anaknya yang mengalami dysphoria gender bisa mengurangi risiko mereka melakukan bunuh diri.
Dysphoria gender berbeda dengan ekspresi gender atau orientasi seksual. Anak muda dengan dysphoria gender berisiko tinggi mengalami depresi dan bunuh diri, sehingga rujukan ke profesional kesehatan mental segera bisa sangat membantu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- Misteri Lenyapnya Bocah 4 Tahun di Tulung Madiun: Hanya Sekedip Mata Saat Ibu Mencuci
Pilihan
-
Daftar Starting XI Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Dava Yunna Masih Jadi Tumpuan!
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
Terkini
-
Perempuan Berlari 2026: Integrasi Olahraga, Kesehatan Mental, dan Literasi Keuangan
-
Bukan Sekadar Sekolah, Anak Neurodivergent Butuh Dukungan Menyeluruh untuk Tumbuh
-
Awas Logam Berat! Ini 7 Deretan Risiko Kesehatan Jika Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu
-
Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa
-
Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif
-
Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak
-
Bisa Remisi, Ini Cara Mengendalikan Diabetes Tanpa Bergantung Obat
-
Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan
-
Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan
-
96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan