Suara.com - Health Alert Card COVID-19 Bukan Kartu Sakti, Ini Fungsi Sebenarnya
Fungsi Health Alert Card (HAC) yang digunakan di beberapa bandara terkait mewabahnya virus corona atau COVID-19 mengundang banyak tanya dari kalangan masyarakat awam.
Apa urgensinya penumpang dari luar negeri diharuskan isi data diri dan data sakit? Apakah efektif kegiatan gini bisa mendapatkan info penderita Corona dan tidak akan diperiksa lagi?
Sekretaris Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto menegaskan bahwa HAC bukanlan kartu sakti, melainkan sebuah early warning system.
"Mereka tetap diperiksa saat datang, mulai dari diukur tensinya, tekanan darahnya. Orang yang datang selalu kita cek suhunya dengan thermal scanner, thermal gun jadi kita pastikan satu persatu," jelas Yuri, sapaannya, saat ditemui di Gedung Kemenkes RI, Senin (17/2/2020).
Yuri mengatakan adanya kerjasama dengan bandara untuk pengisian HAC tersebut. Setelah turun, penumpang yang mengantre di depan imigrasi akan diberikan HAC, namun yang disesalkan oleh Yuri, seringkali para penumpang hanya menerima tanpa membaca atau tidak memperhatikan saat ada penjelasan.
HAC menjadi early warning system terkait kemungkinan munculnya gejala keluhan yang mengarah ke COVID-19 sejak 14 hari selama kedatangan penumpang di Indonesia.
Kartu ini sendiri digunakan bukan hanya untuk COVID-19, bahkan sudah digunakan sejak ada kewasapadaan penyakit wabah lainnya seperti MERS-CoV atau flu unta. Menurut Yuri, semua jamaah haji dan umroh diperlakukan sama dengan penumpang saat wabah COVID-19.
"Dengan catatan 14 jari manakala muncul keluhan (yang mengarah ke) corona, maka kita minta dia menuju faskes manapun dengan menunjukkan kartu itu. HAC tujuannya begitu faskes menerima, mereka akan menelepon ke sistem peringatan dini melalui dinkes dan mengaktifkan 100 rumah sakit yang kita jadikan rujukan ," lanjut Yuri.
Baca Juga: Dibanding Virus Corona Covid-19, DBD Dianggap Lebih Mengancam Singapura
Nantinya di faskes, petugas kesehatan akan memeriksa dan mengecek apakah keluhan tersebut termasuk gejala dari virus corona seperti panas tinggi dan sesak. Jika hanya batuk, nyeri telan, tenggorokan berwarna merah maka itu bakteri bukan virus, katanya. (Frieda Isyana)
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Apa yang Tahan Lama? Ini 5 Produk yang Bisa Awet hingga 12 Jam
- 5 Pemain Top Dunia yang Berpotensi Ikuti Jejak Layvin Kurzawa Main di Super League
- 10 HP OPPO RAM 8 GB dari yang Termurah hingga Flagship 2026
- 4 Pilihan Smart TV 32 Inci Rp1 Jutaan, Kualitas HD dan Hemat Daya
- BPJS PBI Tiba-Tiba Nonaktif di 2026? Cek Cara Memperbarui Data Desil DTSEN untuk Reaktivasi
Pilihan
-
Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus
-
Selamat Jalan 'Babeh' Romi Jahat: Ikon Rock N Roll Kotor Indonesia Tutup Usia
-
Sidang Adat Pandji Pragiwaksono di Toraja Dijaga Ketat
-
Ziarah Telepon Selular: HP Sultan Motorola Aura Sampai Nokia Bunglon
-
Ucap Sumpah di atas Alkitab, Keponakan Prabowo Sah Jabat Deputi Gubernur BI
Terkini
-
Lantai Licin di Rumah, Ancaman Diam-Diam bagi Keselamatan Anak
-
Zero-Fluoroscopy, Solusi Minim Risiko Tangani Penyakit Jantung Bawaan Anak hingga Dewasa
-
Olahraga Saat Puasa? Ini Panduan Lengkap dari Ahli untuk Tetap Bugar Tanpa Mengganggu Ibadah
-
Google dan Meta Dituntut Karena Desain Aplikasi Bikin Anak Kecanduan
-
Bergerak dengan Benar, Kunci Hidup Lebih Berkualitas
-
Direkomendasikan Para Dokter, Ini Kandungan Jamtens Tangani Hipertensi dan Kolesterol
-
Perubahan Iklim Bikin Nyamuk DBD Makin Ganas, Dokter: Kini Bisa Berulang 2 Tahunan
-
Mengenal Ultra Low Contrast PCI, Pendekatan Tindakan Jantung yang Lebih Ramah Ginjal
-
Bukan Sekadar Timbangan: Mengapa Obesitas Resmi Jadi Penyakit Kronis di 2026?
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD