Dikatakan Yurianto, pasien positif Covid-19 yang tidak menunjukkan gejala berat seperti sesak napas dan bukan kelompok risiko tinggi seperti lansia dengan penyakit penyerta, tidak perlu dirawat di rumah sakit. Sebab, Covid-19 adalah self-limited disease alias penyakit yang bisa sembuh sendiri.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Kementerian Kesehatan RI, itu melanjutkan bahwa meskipun isolasi mandiri dilakukan di rumah, seharusnya masyarakat tenang. Apalagi jika tahu isolasi mandiri tetap dalam monitoring petugas kesehatan setempat.
"Bahwa yang bersangkutan memiliki potensi untuk menularkan penyakitnya pada orang lain. Oleh karena itu yang paling penting di dalam konteks ini adalah bagaimana melakukan isolasi diri," sambungnya.
Langkah pemerintah yang memberikan isolasi mandiri pada PDP dan pasien positif Covid-19 ini mendapat reaksi keras dari Marius Widjajarta, Direktur Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan (YPPKI). Menurut Marius, isolasi mandiri di rumah justru meningkatkan risiko penyebaran virus Corona Covid-19 ke orang di sekitarnya.
Sebagai penyakit pernapasan, keberadaan pasien di ruang isolasi rumah sakit sangat penting. Mengingat berdasarkan penelitian, Coronavirus-SARS-CoV-2 merupakan virus yang mudah menginfeksi manusia hingga bisa tinggal berhari-hari di permukaan benda.
"Nggak bisa dong, kalau dia yang namanya suspect sesuai dengan aturan, ruang isolasi ada tekanan negatif. Nanti dia tahu-tahu positif, tetap aja di situ kan, dan penanganannya nggak jelas. Kalau di ruangan biasa di rumah dia jadi nyebar," ujar Marius kepada saat dihubungi Suara.com, Selasa (17/3).
Isolasi di Rumah, Pasien Covid-19 Bisa Jadi Super Spreader
Pendapat Marius juga diamini oleh Adib Khumaidi selaku Ketua Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI). Dikatakan Adib, pasien positif Covid-19 berisiko besar menjadi super spreader jika diisolasi mandiri di rumah. Super spreader adalah istilah bagi orang yang menularkan penyakit wabah secara masif ke orang lain.
Baca Juga: Lagi, Pasien Positif Corona di Grobogan Berbohong, 20 Perawat Wajib Isolasi
Jika diisolasi mandiri di rumah, pasien positif ini tidak adanya ketersediaan fasilitas yang membuat virus itu tidak tersebar, seperti ruangan bertekanan negatif. Itulah mengapa orang yang positif harus mendapat perawatan di ruangan rawat khusus.
"Karena kalau dia diisolasikan di rumah siapa yang bisa menjamin dia tidak bisa menularkan, karena satu orang dia itu bisa menular ke 5 orang," kata Adib.
Apalagi, informasi yang baru seputar penanganan wabah virus Corona Covid-19 masih awam di telinga masyarakat. Masyarakat tidak tahu bagaimana gejala, proses rujukan, hingga mendapatkan isolasi. Istilah seperti ODP dan PDP pun asing di telinga masyarakat.
Masih segar dalam ingatan, seorang pasien positif Covid-19 yang dirawat di RSUP Persahabatan 'kabur' dari ruang isolasi dengan bantuan keluarga.
"Yang kedua tidak terinformasikan. Sehingga dia dinyatakan ODP bahkan PDP, tapi dia masih keluar-keluar sehingga dikatakan kabur dari rumah sakitnya. Hal-hal inilah yang saya kira jadi kekurangan kita sehingga perlu diperbaiki ke depan," ungkap Adib.
Selanjutnya: Solusi Masalah RS Rujukan, Perlu Dibangun Rumah Sakit Khusus Virus Corona?
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 5 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp200 Ribuan
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien