Suara.com - Sejumlah ilmuwan di seluruh dunia kini tengah berlomba untuk mengembangkan perawatan dan vaksin untuk virus corona atau Covid-19. Namun, proses itu tentu membutuhkan sejumlah pengujian serta uji klinis sebelum bisa diproduksi secara massal.
Meski pembuatan vaksin mungkin akan memakan waktu antara 12 dan 18 bulan agar terbukti aman, efektif dan diproduksi secara massal, perawatan efektif lainnya dapat muncul lebih cepat.
Seperti dilansir dari Jerusalem Post, seorang ahli virologi terkemuka dan dekan Fakultas Kedokteran Tropis Nasional Baylor College di Houston, Texas, Peter Jay Hotez, mengatakan bahwa perawatan paling dini yang dapat bekerja melawan Corona Covid-19 adalah terapi serum antibodi.
Antibodi itu didapat seseorang yang telah pulih dari virus dan disuntikkan ke pasien yang sakit.
Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di The Journal of Infectious Diseases pada tahun 2014, para peneliti menunjukkan bagaimana plasma darah konvalesen mungkin efektif untuk secara signifikan mengurangi tingkat kematian, jika diberikan kepada mereka yang telah mengalami infeksi pernapasan akut.
Menurut Hotez, pengobatan berikutnya yang muncul setelah ini kemungkinan besar akan mengubah obat antivirus yang ada dalam beberapa minggu atau bulan, kemudian obat kimia baru dalam setahun, dan vaksin dalam satu hingga tiga tahun.
Dr. Rivka Abulafia-Lapid, seorang dosen senior virologi di Hebrew University of Jerusalem, setuju dengan Hotez bahwa perawatan antivirus kemungkinan akan tersedia dalam waktu enam bulan dan lebih cepat daripada vaksin.
"Israel sudah memiliki 11 obat yang berbeda untuk diuji [pada pasien COVID-19] ... jadi saya akan mengatakan bahwa hal pertama yang keluar adalah obat yang akan secara umum disetujui oleh para ilmuwan dunia dan FDA [Badan Pengawas Makanan dan Obat-Obatan AS], diikuti oleh vaksin,"kata Abulafia-Lapid.
Abulafia-Lapid, yang selama 25 tahun memimpin tim peneliti di Israel yang didedikasikan untuk mengembangkan vaksin yang dapat bertahan melawan HIV dan penyakit autoimun lainnya, mengatakan bahwa vaksin apa pun harus menjalani periode pengujian yang panjang yang melibatkan beberapa fase uji klinis.
Baca Juga: Genit, Wika Salim Terang-terangan Endus Aroma Tubuh Verrell Bramasta
Selain itu, Abulafia-Lapid juga setuju bahwa perawatan serum antibodi yang sembuh bisa menyelamatkan banyak nyawa. Namun tantangannya ialah meningkatkan metode ini untuk ribuan orang.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- Banyak Banget, Intip Hampers Tedak Siten Anak Erika Carlina
Pilihan
-
Hizbullah Klaim Hancurkan Kapal Militer Israel Sebelum Serang Lebanon
-
Jusuf Kalla Mau Laporkan Rismon Sianipar ke Polisi! Ini Masalahnya
-
Di Balik Lahan Hindoli, Seperti Apa Perkebunan yang Jadi Lokasi 11 Sumur Minyak Ilegal?
-
Traumatik Mendalam Jemaat POUK Tesalonika Tangerang: Kebebasan Beribadah Belum Terjamin?
-
'Ayah, Ayah!' Tangis Histeris Keluarga Pecah saat Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur Tiba di Tanah Air
Terkini
-
17.500 Paket Gizi untuk Masa Depan: Langkah Konkret Melawan Stunting di Bekasi
-
Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Apakah Alat Traksi Leher Aman? Ini Penjelasan Medis dan Cara Menggunakannya
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin