Suara.com - Soal Herd Immunity, WHO Tak Yakin Pasien Sembuh Punya Antibodi Corona
Wacana tentang herd immunity alias kekebalan kelompok ramai diperbincangkan terkait virus Corona Covid-19. Klaim herd immunity menyeruak menyusul sudah 2 juta orang lebih yang positif terifeksi virus.
Berdasarkan klaim tersebut, secara berangsur jumlah infeksi akan menurun karena tubuh sudah memiliki antibodi terhadap virus Corona Covid-19.
Namun, pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meragukan klaim tersebut. Berdasarkan temuan saat ini, tidak ada bukti konkret yang mengatakan setiap pasien sembuh dari virus Corona Covid-19 memiliki antibodi.
"Informasi awal yang kami terima saat ini, hanya sepersekian persen dari populasi yang memproduksi antibodi," tutur Mike Ryan, pejabat WHO, dilansir Reuters.
Menurutnya, klaim herd immunity bermanfaat jika sebagian besar populasi yang terifeksi memproduksi antibodi virus Corona Covid-19.
Sayangnya, temuan sementara saat ini menyatakan sebaliknya.
"Ekspektasinya adalah, sebagian besar orang memiliki antibodi tersebut. Jika iya, maka ini bisa berhasil. Namun bukti-bukti yang ada saat ini tidak mendukung ke arah sana, sehingga ini (herd immunity) bukan solusi bagi pemerintah," tutur Mike lagi.
Sementara itu, Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus baru-baru ini membandingkan dampak pandemi virus Corona Covid-19 dengan pandemi flu babi H1N1 yang terjadi pada tahun 2009.
Baca Juga: Ada Tes Swab dan Tes Antibodi untuk Virus Corona, Apa Bedanya?
“Kami tahu bahwa Covid-19 menyebar dengan cepat dan kami tahu itu mematikan, sepuluh kali lebih mematikan daripada pandemi flu 2009. Kita tahu bahwa virus dapat menyebar dengan lebih mudah di lingkungan yang ramai," kata petinggi WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.
"Kita tahu bahwa penemuan, pengujian, isolasi, perawatan kasus di awal untuk setiap kasus, dan melacak setiap kontak sangat penting untuk menghentikan transmisi," tambahnya.
Oleh karena itu, Ghebreyesus meminta pemerintah di negara masing-masing untuk memperlambat keputusan membuka lockdown atau melonggarkan kontrol terhadap warga.
"Dengan kata lain, jalan turun jauh lebih lambat daripada naik. Itu berarti langkah-langkah kontrol harus diangkat perlahan-lahan dan dengan kontrol," tambahnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan