Suara.com - Ahli kesehatan telah memperingatkan bahaya komplikasi happy hipoxia pada pasien virus corona Covid-19 yang mematikan. Happy hipoxia adalah kondisi kadar oksigen rendah yang bisa menyebabkan kematian atau ketidaksadaran.
Umumnya, orang yang sehat memiliki kadar oksigen paling sedikit 95 persen. Sedangkan, pasien usia 70 hingga 80 tahun yang mengalami happy hipoxia memiliki kadar oksigen di bawah 50 persen.
Dr Jonathan Bannard-Smith yang bekerja di Manchester Royal Infirmary dilansir oleh The Sun, melihat banyak pasien yang tidak menyadari tingkat saturasi oksigen rendah.
"Kami biasanya tidak melihat kondisi ini pada kasus influenza atau pneumonia. Kondisi ini jauh lebih mendalam," kata Jonathan.
Sementara ahli anestesi di rumah sakit Wythenshawe mengatakan bahwa pasien dengan kondisi paru-paru lain juga akan mengalami hipoksia, tetapi biasanya mereka terlihat kesakitan.
Dr Mike Charlesworth mengatakan pasien tidak akan berkomunikasi dengan praktisi kesehatan bila mengalami kondisi pneumonia atau emboli paru.
"Kami belum tahu kondisi itu menyebabkan kerusakan organ yang tidak bisa dideteksi," ujarnya.
Charlesworth salah satu orang yang terinfeksi virus corona Covid-19 dan mengalami hipoksia. Ia mengaku mengalami gejala batuk dan demam tinggi.
Ia juga mengatakan tanda umum terjadi hipoksia adalah mengigau, tetapi otak masih bisa bekerja dengan baik. Banyak pula pasien yang lebih tua juga mengalami gejala atipikal seperti muntah kelelahan dan delirium.
Baca Juga: Bukan Jantung, Didi Kempot Meninggal Punya Riwayat Sakit Asma
Gejala hipoksia pada pasien virus corona Covid-19 ini terjadi di Swis, AS, Perancis dan Italia. Dokter pun memasukkan kondisi ini sebagai gejala virus corona Covid-19 yang tidak biasa.
Seorang dokter di London juga mengatakan pasien virus corona Covid-19 yang mengalami hipoksia, kondisinya cenderung lebih buruk. Seorang pasien dengan saturasi oksigen 30 persen mendapat alat bantu ventilator dan meninggal dalam waktu seminggu.
Meskipun orang mengalami kadar oksigen yang rendah, reaksi tubuh terhadap peningkatan kadar karbon dioksida bisa menyelamatkan pasien dengan komplikasi hipoksia.
Jika paru-paru tidak mendapatkan pasokan oksigen cukup, kondisi ini bisa menyebabkan kematian karena pembengkakan dan radang paru-paru.
Dalam banyak kasus, pasien juga tidak bisa mengenali gejalanya tepat waktu. Karena itulah, kondisi ini terbukti mematikan.
Dr Charlesworth juga mengatakan oximeters tidak akan berguna dalam mendeteksi hipoksia, karena tingkat akurat hasilnya masih diragukan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak
-
Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern
-
Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua
-
Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan
-
Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!