Suara.com - Kasus Covid-19 yang melonjak drastis ternyata membuat 4 dari 10 orang dewasa di Amerika terlibat praktik kebersihan yang membahayakan. Termasuk di antaranya mencuci makanan dengan pemutih, menggunakan produk disinfektan pada kulit, atau dengan dengan sengaja menghirup uap dari produk pembersih disinfektan.
Hal ini terungkap menurut sebuah penelitian yang dilaporkan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dari pusat pengendalian racun, terkait dengan paparan pembersih rumah tangga selama pandemi Covid-19.
Penelitian ini berdasarkan survei online terhadap 500 orang dewasa di seluruh Amerika. Mereka menjawab pertanyaan berdasarkan pengetahuan mereka tentang produk pembersih rumah dan bagaimana mempraktikannya untuk mencegah penularan Covid-19.
Untuk menganalisis data, peneliti kemudian menggunakan teknik statistik agar bobot jawaban mereka bisa mewakili seluruh populasi di Amerika.
Sebagian besar responden mengaku tahu cara membersihkan rumah dengan aman. Misalnya, mereka tahu harus ada ventilasi terbuka yang cukup saat menggunakan produk berbahan kimia.
Mereka juga tahu disinfektan harus dijauhi dari anak-anak, termasuk keharusan mencuci tangan setelah menggunakan produk.
Tapi ada celah yang disoroti peneliti seperti hanya sepertiga dari mereka yang tahu pemutih tidak boleh dicampur cuka, karena campuran kedua benda ini bisa menghasilkan gas klor yang bisa mengiritasi mata, tenggorokan, dan hidung, lalu menimbulkan masalah pernapasan.
Bahkan ada 19 persen dari mereka yang menggunakan pemutih untuk mencuci makanan seperti buah-buahan dan sayuran, padahal mencuci bahan makanan ini cukup menggunakan air bersih saja.
Tidak hanya itu, ada 18 persen dari mereka yang menggunakan produk disinfektan untuk kulit, 10 persen mengaku merendam tubuh dengan produk pembersih atau disinfektan, 6 persen mengaku menghirup uap disinfektan, dan 4 persen yang mengaku meminum dan berkumur dengan produk pemutih.
Baca Juga: Simak Panduan BPOM Mengolah Jamu Rumahan untuk Cegah Covid-19
"Praktik-praktik ini menimbulkan risiko kerusakan jaringan yang parah dan cedera korosif yang harus benar-benar dihindari," tulis para peneliti dalam jurnal yang diterbitkan CDC pada 5 Juni 2020 kemarin, mengutip Live Science, Sabtu (6/6/2020).
Berita Terkait
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi
-
Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat
-
Perawatan Gigi Anak yang Nyaman, Bantu Si Kecil Tumbuh dengan Senyum Sehat dan Percaya Diri
-
Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance