Suara.com - Pengujian air limbah di saluran pembuangan mungkin merupakan cara yang efisien untuk memantau penyebaran Covid-19 - dan bahkan dapat memprediksi gelombang kedua. Ini karena feses manusia mungkin menyimpan banyak informasi tentang jejak virus corona.
Dilansir dari Huffpost, di Skotlandia, limbah sedang diuji untuk jejak virus - khususnya, asam ribonukleat (RNA) Covid-19 - sebagai bagian dari uji coba pemantauan penyebaran infeksi. Sampel dari air limbah pada pengolahan limbah di Skotlandia akan dianalisis oleh para ilmuwan dari Scottish Environment Protection Agency (SEPA) atau Badan Perlindungan Lingkungan Skotlandia.
Mereka berharap dapat menggunakan data untuk memahami seberapa luas penyebaran virus corona di Skotlandia, dalam kombinasi dengan pengujian komunitas dan data penerimaan rumah sakit. Teorinya adalah bahwa ketika banyak RNA hadir dalam air limbah, itu menunjukkan wabah lokal - begitu banyak orang memiliki virus di komunitas itu. Ini termasuk mereka yang tidak menunjukkan gejala sama sekali.
Menguji limbah untuk Covid-19 bukanlah hal baru. Satu studi menemukan virus itu ada di sistem saluran pembuangan di Milan dan Turin pada awal Desember 2019 - dua bulan sebelum kasus positif pertama dilaporkan di Italia. Itu juga sebelum pejabat China mengonfirmasi keberadaan virus corona.
Di Paris, kembali pada bulan Maret, air limbah dianalisis selama lebih dari sebulan. Para peneliti mendeteksi naik dan turunnya RNA di selokan, yang berkorelasi dengan naik turunnya kasus Covid-19 tidak lama kemudian. Sébastien Wurtzer, seorang ahli virologi di Eau de Paris, utilitas air publik kota itu, mengatakan kepada Science Mag data tersebut dapat membantu memprediksi gelombang kedua wabah.
Pada bulan Mei, sekelompok peneliti dari Universitas Yale melihat konsentrasi RNA virus corona di air limbah selama wabah di wilayah metropolitan timur laut di AS dan - tentu saja - menemukan peningkatan konsentrasi RNA di selokan berkorelasi dengan kenaikan rawat inap di rumah sakit setempat beberapa hari kemudian.
Studi mereka, yang tersedia dalam bentuk pracetak, menyimpulkan bahwa konsentrasi RNA virus corona adalah "indikator utama infeksi masyarakat" sesbelum data pengujian dan penerimaan pasien di rumah sakit setempat.
Temuan tersebut dapat membantu pejabat kesehatan menerapkan langkah-langkah kesehatan masyarakat, kata mereka. Misalnya, jika tiba-tiba ditemukan konsentrasi tinggi RNA virus di selokan, lockdown setempat dapat diberlakukan.
Tidak ada laporan yang dikonfirmasi tentang virus yang menyebar dari feses ke manusia. Dan dua penelitian independen dari Belanda menemukan bahwa sementara jejak RNA virus corona ada di air limbah. Begitu air limbah telah diolah, tidak ada lagi jejak RNA yang hadir.
Baca Juga: Update Covid-19 Global 29 Juni: Thailand Mulai Beradaptasi pada New Normal
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Anak Aktif Rentan Lecet? Ini Tips Perlindungan Luka agar Cepat Pulih dan Tetap Nyaman
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia