- Kelainan refraksi tidak terkoreksi merupakan penyebab utama gangguan penglihatan berdampak pada pendidikan dan produktivitas di Indonesia.
- Kemenkes RI bersama OneSight EssilorLuxottica Foundation meluncurkan inisiatif strategis untuk akses layanan kesehatan mata merata.
- Program tiga tahun meliputi pelatihan perawat, penguatan Vision Center, donasi 50.000 kacamata, dan peningkatan kesadaran publik.
Suara.com - Kemampuan melihat dengan jelas sering kali dianggap sebagai hal yang wajar, hingga gangguan penglihatan mulai menghambat aktivitas sehari-hari.
Di Indonesia, kelainan refraksi yang tidak terkoreksi masih menjadi salah satu penyebab utama gangguan penglihatan dan berdampak signifikan terhadap capaian pendidikan, produktivitas kerja, serta kualitas hidup masyarakat.
Tanpa deteksi dini dan akses terhadap solusi koreksi seperti kacamata, banyak anak maupun orang dewasa menghadapi hambatan yang sebenarnya dapat dicegah.
Kesulitan membaca di sekolah, menurunnya konsentrasi saat bekerja, hingga terbatasnya aktivitas harian kerap berawal dari gangguan penglihatan yang tidak tertangani dengan baik.
“Penglihatan adalah fondasi sebuah masyarakat yang memengaruhi pendidikan, produktivitas, dan masa depan anak-anak,” ujar Dailami Azis, Country Manager EssilorLuxottica Indonesia.
Ia menegaskan bahwa akses terhadap pemeriksaan mata sejak dini menjadi langkah krusial untuk mencegah dampak jangka panjang.
“Dengan adanya inisiatif ini, kita memberikan akses pemeriksaan mata agar kelainan refraksi atau gangguan penglihatan bisa terdeteksi dan dikelola lebih awal, sehingga tidak berdampak di masa depan mereka,” jelasnya.
Kesadaran akan pentingnya kesehatan mata juga menjadi perhatian serius pemerintah. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama OneSight EssilorLuxottica Foundation secara resmi meluncurkan sebuah inisiatif strategis untuk memperkuat akses layanan kesehatan mata di seluruh Indonesia.
Inisiatif ini bertujuan mewujudkan layanan kesehatan mata yang adil, merata, dan berkelanjutan, terutama bagi kelompok masyarakat yang selama ini memiliki keterbatasan akses.
Baca Juga: Kemenkes Kerahkan 513 Nakes ke Wilayah Paling Terisolir di Aceh
Menurut Siti Nadia Tarmizi, Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, gangguan penglihatan memiliki dampak luas di semua kelompok usia.
“Gangguan penglihatan berdampak signifikan terhadap proses belajar, produktivitas, kemandirian, dan kualitas hidup,” ujarnya.
Ia menambahkan, deteksi dini dapat mencegah atau mengoreksi banyak gangguan penglihatan. Oleh karena itu, kolaborasi strategis menjadi kunci dalam memperluas skrining penglihatan dan memastikan tindak lanjut layanan.
Melalui kemitraan ini, penguatan ekosistem kesehatan mata dilakukan dengan pendekatan komprehensif berbasis empat pilar utama yang akan diimplementasikan selama tiga tahun.
Program tersebut mencakup pelatihan 900 perawat puskesmas agar mampu melakukan skrining penglihatan di layanan primer, penguatan 15 Vision Center di berbagai wilayah, donasi 50.000 kacamata koreksi bagi masyarakat dengan kelainan refraksi, serta peningkatan kesadaran publik akan pentingnya pemeriksaan mata secara rutin.
“Peluncuran ini menandai langkah penting dalam memperkuat akses layanan kesehatan mata di Indonesia,” ujar perwakilan Kementerian Kesehatan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat
-
Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance
-
Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum
-
Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis Redakan Wasir dengan Cara Alami
-
Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun