- Obesitas kini diklasifikasikan sebagai penyakit kronis yang mengancam nyawa, sehingga penanganannya fokus pada kesehatan jangka panjang, bukan sekadar angka timbangan.
- Pedoman gizi resmi berubah per Januari 2026 dengan menempatkan protein dan sayuran sebagai fondasi utama, menggantikan karbohidrat yang kini harus dibatasi.
- Keberhasilan manajemen berat badan bergantung pada kualitas nutrisi (strategi 4J), aktivitas fisik, dan bantuan medis seperti terapi GLP-1 sebagai alat bantu awal, bukan solusi instan.
Suara.com - Menggeser paradigma bahwa obesitas adalah soal penampilan menjadi pemahaman sebagai penyakit kronis menjadi fokus utama dalam acara edukatif "You Are What You Eat" pada Jumat, 6 Februari 2026.
Acara yang diprakarsai oleh MAHVA Clinic ini menghadirkan dr. Adhiatma Prakasa dan dr. Ega Bonar untuk meluruskan miskonsepsi seputar manajemen berat badan.
Latar belakangnya jelas, yakni angka obesitas terus meningkat, mendorong World Health Organization (WHO) mengklasifikasikannya sebagai penyakit kronis yang memerlukan penanganan serius.
Taruhan Nyawa, Bukan Angka Timbangan
Ega Bonar menegaskan bahwa memandang obesitas sebatas angka di timbangan adalah sebuah kekeliruan fatal. Menurutnya, ini adalah pertaruhan nyawa.
"Mengelola obesitas bukan hanya soal angka di timbangan, tetapi tentang menyelamatkan nyawa," kata Ega Bonar.
“Komplikasi obesitas sangat luas, mulai dari diabetes, penyakit jantung, hingga gagal ginjal," ucapnya menyambung.
Pernyataan ini didukung oleh Adhiatma yang menekankan bahwa manajemen berat badan adalah perjalanan seumur hidup.
Fondasi utamanya adalah membangun kebiasaan baru melalui modifikasi gaya hidup, olahraga teratur, dan nutrisi yang tepat. Dia mengingatkan pentingnya tiga pilar, yaitu drivers (motivasi), determination (determinasi), dan discipline (disiplin).
Baca Juga: 11 Juta Peserta BPJS PBI Dinonaktifkan, PDIP: Keselamatan Rakyat Tak Boleh Dikalahkan Birokrasi!
Piramida Gizi Terbalik, Karbohidrat Bukan Lagi Raja
Salah satu sorotan utama adalah pemaparan Ega mengenai evolusi pedoman gizi.
Dia menunjukkan bagaimana piramida makanan USDA (Departemen Pertanian AS) yang puluhan tahun menempatkan karbohidrat sebagai dasar, kini resmi "dibalik" per Januari 2026.
Model terbaru menempatkan protein dan sayuran sebagai fondasi, sementara karbohidrat berada di puncak sebagai asupan yang perlu dibatasi.
"Gaya hidup kita berubah. Kebutuhan karbohidrat kita sudah tidak sebanyak itu. Dulu banyak orang kerja fisik, sekarang mayoritas tidak," jelas Ega.
Adhiatma kemudian membongkar mitos defisit kalori. Dia mengilustrasikan bahwa 1.000 kalori dari katering sehat akan memberikan hasil yang sangat berbeda dari 1.000 kalori yang didapat dari dua bungkus mi instan.
Berita Terkait
-
Tak Hanya Puasa, Kemenkes RI Sarankan Kurangi Garam, Gula, dan Lemak saat Ramadan
-
Audy Item Bicara Obesitas: Pentingnya Dukungan Medis untuk Menurunkan Berat Badan
-
MK Putuskan Penyakit Kronis Masuk Kategori Disabilitas, Kabar Baik Bagi Pejuang Autoimun dan Saraf
-
FOMO Sehat ala Gen Z, Mitos Obesitas, dan RS Tapi Homey
-
Alarm Kesehatan Nasional: 20 Juta Warga RI Hidup dengan Diabetes, Jakarta Bergerak Melawan!
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
- Pakai Paspor Belanda saat Perpanjang Kontrak 2025, Status WNI Dean James Bisa Gugur?
- Pajaknya Nggak Bikin Sengsara: Cek 5 Mobil Bekas Bandel di Bawah 70 Juta untuk Pemula
Pilihan
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
Terkini
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi
-
Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!
-
Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?
-
Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung
-
Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman
-
Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi
-
Cedera Lutut hingga Bahu Paling Banyak Dialami Atlet dan Penggemar Olahraga
-
Jelang Lebaran, Korban Banjir Aceh Tamiang Dibayangi ISPA hingga Diare: Imunitas Harus Diperhatikan
-
Deteksi Dini dan Kebijakan Ramah Lingkungan: Solusi Terpadu untuk Menangani Penyakit Ginjal