Health / Konsultasi
Kamis, 05 Februari 2026 | 10:08 WIB
Melawan Angka Kematian Kanker yang Tinggi: Solusi Lokal dari Etana untuk Akses Terapi yang Merata (Dok. Istimewa)
Baca 10 detik
  • Kanker menyebabkan lebih dari 242 ribu kematian di Indonesia pada 2022, mendorong perlunya inovasi penanganan terintegrasi.
  • Etana Biotechnologies berkomitmen menghadirkan terapi biologi onkologi strategis yang diproduksi lokal dan lebih terjangkau.
  • Etana berkolaborasi dengan Perhimpunan Onkologi Indonesia dalam Sarasehan WCD 2026 untuk kesetaraan akses layanan kanker.

Suara.com - Penyakit kanker masih menjadi salah satu tantangan paling kompleks dalam sistem kesehatan nasional. Dengan lebih dari 408 ribu kasus baru dan 242 ribu angka kematian berdasarkan data Globocan 2022, kanker tidak hanya menjadi persoalan medis, tetapi juga isu sosial dan ekonomi yang berdampak luas. 

Di balik angka tersebut, jutaan pasien dan keluarga berjuang menghadapi keterbatasan akses layanan, mahalnya terapi, hingga kesenjangan fasilitas antarwilayah. Di tengah tantangan tersebut, inovasi di bidang onkologi hadir sebagai harapan baru. 

Momentum World Cancer Day (WCD) 2026 bertema “United By Unique” dimanfaatkan PT Etana Biotechnologies Indonesia (Etana) untuk menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem penanganan kanker yang lebih inklusif, terintegrasi, dan berkelanjutan.

Etana meyakini bahwa keberhasilan penanganan kanker tidak dapat dicapai melalui pendekatan yang terfragmentasi. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari industri, komunitas medis, hingga pembuat kebijakan agar pasien memperoleh layanan yang optimal dari hulu ke hilir.

“Dibutuhkan inovasi berkelanjutan agar layanan kanker, mulai dari deteksi dini, terapi terbaik hingga perawatan paliatif, dapat diakses secara lebih merata dan berkualitas oleh seluruh lapisan masyarakat,” ujar Randy Stevian, Direktur Strategic Partnership & Business Development Etana.

Sebagai langkah konkret, Etana menghadirkan portofolio terapi biologi onkologi strategis yang selama ini sulit diakses di Indonesia.

Mulai dari Bevagen (Bevacizumab) sebagai produk pertama yang diproduksi secara lokal, hingga terapi inovatif seperti Etapidi (Tislelizumab – Anti PD-1), Brukinsa (Zanubrutinib – Anti BTK), dan Hernera (Neratinib Maleate – TKI). 

Kehadiran produk-produk ini membuka peluang bagi pasien untuk mendapatkan pengobatan mutakhir dengan harga yang lebih terjangkau.

“Inovasi kami di bidang onkologi bertujuan memastikan setiap pasien di Indonesia, terlepas dari keunikan kondisi klinis mereka, memiliki akses terhadap terapi bioteknologi berkualitas tinggi yang diproduksi secara lokal,” tegas Randy.

Baca Juga: Kemenkes Siapkan Strategi Swab Mandiri untuk Perluas Deteksi Dini Kanker Serviks

“Kami ingin memberikan harapan baru bagi pejuang kanker melalui solusi yang aman, efektif, dan terjangkau, demi meningkatkan kualitas hidup serta masa depan keluarga Indonesia,” lanjut dia.

Upaya ini juga sejalan dengan agenda nasional dalam memperkuat pencegahan, diagnosis, dan terapi kanker. Tantangan negara berkembang seperti keterbatasan fasilitas, distribusi layanan yang belum merata, serta rendahnya kesadaran deteksi dini masih menjadi pekerjaan rumah besar. 

Untuk itu, Etana memperkuat kemitraan strategis dengan Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) sebagai garda terdepan tata laksana kanker di tanah air. Ketua Umum POI, Dr. dr. Cosphiadi Irawan, SpPD-KHOM, menyambut baik kolaborasi ini.

“Penanganan kanker adalah upaya multidisiplin. Dukungan dari mitra industri seperti Etana sangat krusial, terutama dalam memfasilitasi forum diskusi strategis dan memperluas jangkauan edukasi kepada masyarakat,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa sinergi lintas sektor merupakan kunci dalam membangun kebijakan pelayanan kanker yang benar-benar berorientasi pada keselamatan pasien.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Sarasehan World Cancer Day 2026 sekaligus Pelantikan Pengurus Pusat POI Periode 2026–2029 di Jakarta. 

Load More