Suara.com - Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Dirjen P2P) Kementerian Kesehatan RI Achmad Yurianto ikut menanggapi jumlah kasus Covid-19 di Indonesia yang telah menyalip China. Menurutnya pandemi ini bukan jadi ajang balapan antar negara.
"Ini penyakit yang tidak perlu pakai balapan ya, nanti sakit lho kalau nggak pernah ngalahin Amerika, nggak pernah ngalahin Brasil, kalau nggak pernah ngalahin nanti lama-lama frustasi loh kita," ujar Yurianto dalam acara diskusi No Sleep For Weekend, Sabtu (25/7/2020).
Jika terus membanding-bandingkan dengan negara lain, kata Yurianto ia khawatir akan timbulnya persepsi dan anggapan pengetesan tidak bagus, cara edukasi jubir kepada masyarakatnya tidak baik, atau bahkan dianggap tidak mampu melatih SDM.
"Dianggap nggak bisa melatih banyak orang kan repot lagi.Jadi kita melihat ini kasus Covid-19," terangnya.
Mantan Jubir Pemerintah untuk Covid-19 ini membenarkan memang Indonesia punya cara yang berbeda dengan China dalam menghadapi pandemi. Dibanding melakukan lockdown, Indonesia menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
"China saya pikir berapapun angkanya satu hal yang mereka lakukan, termasuk begitu kejadian ini mereka langsung me-lockdown kota Wuhan, itu yang salah satu yang bisa menghambat mengerem laju," kata Yurianto.
Yurianto selalu percaya jika membatasi mobilitas masyarakat jadi kunci mengurangi laju penyebaran Covid-19. Jadi masyarakat harus patuh menjaga jarak, memakai masker, dan rajin mencuci tangan.
"Artinya masyarakat sebenarnya harus aktif harus menjadi subjek dari upaya ini," imbuhnya.
Hal ini terbukti dari data yang mengatakan jika penyebaran Covid-19 tinggal tersisa 8 provinsi dengan tingkat mobilitasnya yang sangat tinggi. Seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Sumatera Utara.
Baca Juga: Ibu Terinfeksi Covid-19 Tidak Akan Menulari Bayi jika Lakukan Hal Ini
Tapi jika dibedah lebih lanjut, di provinsi itu juga tidak semua penyebarannya tinggi. Hanya di beberapa daerah dengan kepadatan masyarakat yang tinggi.
"Misalnya kita lihat Jawa Timur meskipun tinggi, kalau diperhatikan betul yang tinggi banget itu adalah Surabaya, Surabaya Raya. Di antaranya Kabupaten Gresik, Sidoarjo, Kota Surabaya, Mojokerto yang lainnya enggak," tutup Yurianto.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Toyota Bekas yang Mesinnya Bandel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Pajak Rp500 Ribuan, Tinggal Segini Harga Wuling Binguo Bekas
- 9 Sepatu Adidas yang Diskon di Foot Locker, Harga Turun Hingga 60 Persen
- 10 Promo Sepatu Nike, Adidas, New Balance, Puma, dan Asics di Foot Locker: Diskon hingga 65 Persen
- 5 Rekomendasi Sepatu Lari Kanky Murah tapi Berkualitas untuk Easy Run dan Aktivitas Harian
Pilihan
-
Petani Tembakau dan Rokok Lintingan: Siasat Bertahan di Tengah Macetnya Serapan Pabrik
-
Bos Bursa Mau Diganti, Purbaya: Tangkap Pelaku Goreng Saham, Nanti Saya Kasih Insentif!
-
Omon-omon Purbaya di BEI: IHSG Sentuh 10.000 Tahun Ini Bukan Mustahil!
-
Wajah Suram Kripto Awal 2026: Bitcoin Terjebak di Bawah $100.000 Akibat Aksi Jual Masif
-
Tahun Baru, Tarif Baru: Tol Bandara Soekarno-Hatta Naik Mulai 5 Januari 2026
Terkini
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan
-
Kesehatan Gigi Keluarga, Investasi Kecil dengan Dampak Besar
-
Fakta Super Flu, Dipicu Virus Influenza A H3N2 'Meledak' Jangkit Jutaan Orang
-
Gigi Goyang Saat Dewasa? Waspada! Ini Bukan Sekadar Tanda Biasa, Tapi Peringatan Serius dari Tubuh
-
Bali Menguat sebagai Pusat Wellness Asia, Standar Global Kesehatan Kian Jadi Kebutuhan