Suara.com - Mengajarkan disiplin pada anak sudah dilakukan para orangtua di Jepang sejak dini. Di Jepang, bukan pemandangan aneh melihat anak usia 2 tahun duduk tenang dan anteng di dalam kereta. Padahal, lazimnya anak-anak usia itu, adalah hal yang wajar jika mereka melompat, berdiri di kursi ingin melihat ke jendela, bahkan merengek karena tak betah duduk diam.
Dalam artikel yang ditulis oleh Kate Lewis di laman Savvy Tokyo, ibu asal Amerika ini bercerita mengenai cara orangtua Jepang dalam menangani tantrum anaknya yang berusia 2 tahun.
Ya, seperti halnya anaka-anak usia 2 tahun, anak-anak di Jepang pun kerap tantrum atau mengamuk di tempat umum. Namun, Kate melihat, orangtua di Jepang akan membiarkan anaknya tantrum, duduk di tanah, serta menangis dan berteriak di taman bermain. Mereka seolah tak peduli. Ternyata sikap tak peduli para orangtua ini ada alasannya.
Kate menulis, suatu hari ia sempat melihat seorang anak yang mulai rewel di kereta. Sang ayah pun mengajak seluruh anggota keluarganya turun dari kereta. Dan setelah pintu kereta terutup, terlihat sang ayah membawa anaknya ke pojok peron yang sepi dan mulai menasihatinya di tempat itu tanpa terlihat banyak orang.
Ya, ternyata hampir semua orangtua di Jepang memilih untuk menunggu dan mencari tempat privat sebelum menasihati anaknya.
Tidak hanya mempertahankan pride anak, mendisiplinkan secara privat juga memperlihatkan pride sebagai orangtua. Dalam bahasa Jepang, disiplin disebut shitsuke yang bisa berarti 'melatih'.
Orangtua diharapkan mencontohkan perilaku yang harus ditiru oleh anak-anak mereka. Dalam kasus di atas, menasihati anak secara pribadi tentu jauh lebih baik daripada memarahi anak di tengah-tengah penumpang kereta yang penuh sesak.
Selain menasihati secara pribadi, guru dan orangtua di Jepang juga terbiasa mengajarkan anak-anak untuk berlaku baik dengan membuat anak terbiasa untuk berkelakuan baik dan sopan dengan kegiatan tertentu.
Misalnya, sejak anak di TK, mereka dibiasakan untuk mengikuti jadwal ketat, mengulang lagu-lagu, permainan, dan perilaku disiplin yang berulang seperti menaruh sepatu di tempatnya dengan rapi dan duduk dengan baik, hingga akhirnya hal-hal sederhana itu menjadi hal yang biasa dilakukan bagi mereka.
Baca Juga: Anak Sulit Disiplin Protokol Kesehatan, DPR Minta Pembukaan Sekolah Dikaji
Bagaimana, kira-kira trik mengajarkan disiplin pada anak ini bisa ditiru, nggak, oleh orangtua di Indonesia?
Berita Terkait
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
- PERANG DIMULAI: Amerika dan Israel Serang Ibu Kota Iran
- Terpopuler: 5 HP Samsung RAM 8 GB Termurah, Sinyal Xiaomi 17T Series Masuk Indonesia
- Israel Bombardir Kantornya di Teheran, Keberadaan Imam Ali Khamenei Masih Misterius
Pilihan
-
Terungkap! Begini Cara CIA Melacak dan Mengetahui Posisi Ayatollah Ali Khamenei
-
Iran Klaim Hantam Kapal Induk USS Abraham Lincoln Pakai 4 Rudal, 3 Tentara AS Tewas
-
BREAKING: Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad Dilaporkan Tewas dalam Serangan Israel
-
Iran Kibarkan Bendera Merah di Masjid Jamkaran Usai Kematian Khamenei, Simbol Janji Balas Dendam
-
Profil Mojtaba Khamenei: Sosok Kuat Penerus Ali Khamenei, Calon Pemimpin Iran?
Terkini
-
Presisi dan Personalisasi: Arah Baru Perawatan Kanker di Asia Tenggara
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia