Suara.com - Studi dari para peneliti di University of Leeds menemukan bahwa jumlah pasien serangan jantung yang datang ke rumah sakit turun tajam selama pandemi. Hal ini yang malah berefek pada peningkatan kematian pasien dengan penyakit jantung parah.
Melansir dari Independent, jumlah penurunan kunjungan pasien serangan jantung di Inggris menurun setengahnya selama pandemi. Kunjungan pasien yang menderita penyumbatan sebagian pembuluh darah di jantung, bentuk paling umum dari serangan jantung menurun 49 persen.
Sementara itu, kematian pasien-pasien ini melonjak 39 persen di masa awal pandemi dibandingkan dengan 14 bulan sebelumnya.
Tingkat kematian 30 hari meningkat dari 5,4 persen sebelum pandemi menjadi 7,5 persen dari semua pasien jantung antara 23 Maret hingga 19 April.
"Ada sedikit keraguan bahwa penurunan besar dalam kunjungan ke rumah sakit pada pesien dengan serangan jantung akan memiliki dampak besar pada kesehatan mereka," kata Chris Gale, profesor kedokteran kardiovaskular di University of Leeds.
“Orang akan meninggal atau mengalami gagal jantung sebagai akibat menurunnya kunjungan rumah sakit. Inflasi pada kematian di antara pasien serangan jantung yang absen datang ke rumah sakit mungkin merupakan sinyal awal dari mortalitas dan morbiditas yang belum diamati," tambahnya.
Sayangnya, penelitian ini tidak dapat mengidentifikasi penyebab pasti dari perubahan tingkat kematian. Penelitian ini juga tidak mempertimbangkan kemungkinan pasien mengalami kondisi memburuk selama pandemi Covid-19.
Tetapi penulis penelitian percaya bahwa keterlambatan dalam mencari bantuan medis cukup berperan.
“Mereka memutuskan untuk tidak pergi ke rumah sakit. Mungkin karena anjuran untuk tetap di rumah atau karena takut terinfeksi virus di rumah sakit," kata Prof Gale.
Baca Juga: Konsumsi Imunomodulator Saat Pandemi, Benarkah Baik untuk Imunitas Tubuh?
“Padahal serangan jantung adalah keadaan darurat medis dan jika tidak mencari bantuan medis, mereka akan mati atau mengembangkan gagal jantung," tambahnya. Temuan ini diterbitkan dalam European Heart Journal.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia
-
Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh
-
Tips Memilih Susu Berkualitas, Nutrisionis: Perhatikan Sumber dan Kandungannya
-
Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien