Suara.com - Kanker hati mengacu pada sel kanker yang berkembang biak secara tak terkendali di hati, organ penting di sisi kanan atas perut.
Kanker hati jauh lebih sulit diobati jika terlambat dikenali. Karena itu, penting untuk mengenali gejalanya dan segera bertindak.
Sayangnya, kanker hati biasanya tidak menimbulkan gejala jelas pada tahap awal. Sejumlah gejala yang terkait dengan kanker hati bisa berdampak langsung ke seluruh tubuh.
Cancer Research UK mengatakan kanker hati bisa menyebabkan pembengkakan pada perut (abdomen). Kondisi itu terjadi karena hati membesar akibat kanker tumbuh dan menyebabkan pembengkakan di sisi kanan perut.
Kanker atau sirosis meningkatkan tekanan di hati yang menyebabkan darah kembali ke pembuluh (vena). Kondisi ini memaksa cairan keluar dari vena ke perut (asites).
"Tekanan yang meningkat pada pembuluh darah bisa membuatnya membengkak sehingga bisa terlihat di bawah permukaan perut Anda," kata Cancer Research UK dikutip dari Express.
Cancer Research UK mengatakan asites juga bisa berkembang ketika hati tidak menghasilkan cukup protein darah (albumin). Asites adalah istilah medis yang digunakan untuk menggambarkan penumpukan cairan di dalam perut.
Gejala kanker hati lainnya, meliputi:
1. Kulit atau bagian putih mata Anda menguning (ikterus), Anda mungkin juga mengalami kulit gatal, kencing berwarna lebih gelap dan kotoran lebih pucat dari biasanya
2. Kehilangan nafsu makan atau kehilangan berat badan tanpa alasan jelas
3. Merasa lelah atau tidak berenergi
4. Merasa tidak sehat secara umum atau mengalami gejala seperti flu
5. Benjolan di sisi kanan perut Anda
Baca Juga: Wanita Ini Gugat Pemerintah karena Ayahnya Meninggal Akibat Virus Corona
Pengobatan kanker hati
Menurut NHS, pengobatan kanker hati tergantung pada sejumlah variabel, antara lain:
1. Jika kanker dimulai di hati atau menyebar dari tempat lain. Namun pengobatan untuk kanker hati primer dan sekunder serupa
2. Ukuran dan jenis kanker hati yang Anda miliki
3. Letak kanker hati
4. Kanker sudah menyebar atau belum
5. Riwayat penyakit sebelumnya
"Ini mungkin termasuk pembedahan, kemoterapi, menggunakan panas untuk menghancurkan kanker (ablasi termal) dan menggunakan obat-obatan yang ditargetkan," jelas Cancer Research UK.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
Pilihan
-
Cek Fakta: Yaqut Cholil Qoumas Minta KPK Periksa Jokowi karena Uang Kuota Haji, Ini Faktanya
-
Hasil Akhir: Kalahkan Persija, Persib Bandung Juara Paruh Musim
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
Terkini
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial