Suara.com - Serangan jantung terkait dengan kebiasaan gaya hidup yang tidak sehat, seperti pola makan buruk dalam jangka waktu lama. Karena, lemak jenuh dalam makanan olahan mengandung sejenis kolesterol yang menyumbat arteri.
Jika arteri tersumbet oleh kolesterol, hal ini bisa memicu serangan jantung. Tapi, ada pula beberapa faktor risiko yang meningkatkan serangan jantung.
Menurut penelitian baru, musim dingin bisa meningkatkan risiko serangan jantung. Penelitian dalam Journal of American Heart Association menunjukkan risiko serangan jantung meningkat cepat setelah seseorang menderita penyakit flu.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran ketika datangnya musim dingin, di mana banyak orang tidak hanya menghadapi ancaman penyakit flu tetapi juga virus corona Covid-19.
Studi tersebut meneliti hubungan antara flu, serangan jantung dan stroke yang semuanya terjadi lebih sering selama musim dingin.
Para peneliti menganalisis data kesehatan masyarakat negara bagian New York dari 2004 hingga 2015. Lalu, mereka menyusun analisisnya pada orang dewasa yang dirawat di rumah sakit atau datang ke unit gawat darurat karena stroke, serangan jantung dan penyakit mirip flu.
Studi itu pun mengandalkan algoritme yang dikembangkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS untuk mengidentifikasi gejala serupa influenza.
Hasilnya, mereka menemukan bahwa stroke dan serangan jantung meningkatkan selama tingkat penyakit mirip flu semakin tinggi.
"Kami menemukan jika seseorang mengalami serangan jantung, hal itu pasti terjadi dalam 7 hari setelah penyakit mirip flu," kata Boehme, asisten profesor epidemiologi di departemen neurologi di Universitas Columbia di Kota New York dikutip dari Express.
Baca Juga: Terbaru, Pasien Virus Corona Kembangkan Cairan Putih di Paru-Paru
Pada pasien dengan stroke, kami melihat peningkatan risiko 7 hingga 15 hari setelahnya penyakit flu, mirip dengan serangan jantung. Tetapi, stroke memiliki periode risiko tambahan yang lebih tinggi setelah 30 hari.
Berdasarkan temuan itu, Boehme meminta lebih banyak penelitian untuk membantu mengungkapkan penyebab penyakit flu bisa meningkatkan risiko stroke dan serangan jantung.
Di sisi lain, peneliti juga tidak bisa menentukan para pserta yang mengikuti penelitian ini telah menerima vaksin flu atau belum.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 6 Sunscreen Pencerah di Indomaret yang Worth It Masuk Keranjang Belanja
Pilihan
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
Terkini
-
Mendorong Anak Down Syndrome Tumbuh Mandiri Lewat Terapi dan Pelatihan
-
Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah
-
Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress
-
Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama
-
Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia
-
Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak
-
Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini
-
Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes
-
Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol
-
Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu