Suara.com - Johnson & Johnson telah menghentikan uji klinis vaksin virus corona eksperimentalnya. Hal itu lantaran ada salah satu relawan vaksin yang mengalami sakit yang tidak dapat dijelaskan.
"Kami telah menghentikan sementara pemberian dosis lebih lanjut di semua uji klinis kandidat vaksin Covid-19 kami, termasuk uji coba ENSEMBLE Fase 3, karena penyakit yang tidak dapat dijelaskan pada peserta penelitian," tulis perusahaan dalam sebuah pernyataan.
Dilansir dari New York Post, perusahaan itu tidak mengungkapkan rincian tentang penyakit yang dilaporkan, tetapi mengatakan peserta sedang dievaluasi oleh dewan pengawas internal dan dokter.
“Kita harus menghormati privasi peserta ini. Kami juga mempelajari lebih lanjut tentang penyakit peserta ini, dan penting untuk mengetahui semua faktanya sebelum kami membagikan informasi tambahan, "tulis Johnson & Johnson.
Penghentian sementara uji klinis ini ertama kali dilaporkan oleh Stat News. Perusahaan mengatakan dalam pernyataannya bahwa penyakit selama uji klinis tidak jarang terjadi.
“Kejadian buruk - penyakit, kecelakaan, dll. - bahkan yang serius, merupakan bagian yang diharapkan dari setiap studi klinis, terutama studi besar.”
ampaknya akan ambyar setelah uji klinis terakhir calon vaksinnya yang dikembangkan bersama Universitas Oxford, Inggris itu dihentikan sementara untuk waktu yang belum ditentukan.
Uji klinis vaksin Covid-19 dari Astrazeneca dan Oxford, yang sebelumnya digadang-gadang sebagai yang tercepat di antara kandidat vaksin lainnya, juga sempat dihentikan karena salah satu relawan yang sudah disuntik mengalami gejala penyakit yang belum bisa dijelaskan.
Sudah miliaran dosis vaksin Oxford - Astrazeneca dipesan oleh negara-negara maju, mulai dari Amerika Serikat, Afrika Selatan, Uni Eropa, hingga Australia.
Baca Juga: Bersifat Akut, Ahli: Jangan Anggap Sepele Hepatitis A
Presiden AS, Donald Trump bahkan sudah mendesak agar vaksin itu tersedia sebelum pemilihan umum pada November nanti. Sementara di India, pabrik-pabrik vaksin terbesar di dunia sudah siap memproduksi vaksin-vaksin Oxford tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Arya Iwantoro Anak Siapa? Ternyata Ayahnya Eks Sekjen Kementan yang Pernah Diperiksa KPK!
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Pilihan
-
Debut Berujung Duka, Pemain Senegal Meninggal Dunia Usai Kolaps di Lapangan
-
Di Tengah Jalan Raya, Massa Polda DIY Gelar Salat Gaib Massal untuk Korban Represi Aparat
-
Massa Aksi di Depan Polda DIY Dibubarkan Paksa oleh Sekelompok Orang Berpakaian Sipil
-
5 Fakta Mencekam Demo di Mapolda DIY: Gerbang Roboh hingga Ledakan Misterius
-
Suasana Mencekam di Depan Polda DIY, Massa Berhamburan Usai Terdengar Ledakan
Terkini
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang
-
Cuma Pakai Dua Jari, Dokter Ungkap Cara Deteksi Sakit Jantung dari Raba Nadi