Suara.com - Hasil uji coba ACTT-1, yang bertujuan untuk melihat keefektifan remdesivir sebagai pengobatan Covid-19, akhirnya dipublikasikan.
Sejauh ini, satu-satunya obat yang terbukti mengurangi kematian akibat infeksi virus corona adalah dexamathasone atau deksametason, steroid yang menekan sistem kekebalan melalui efek antiradang.
Dilansir The Conversation, steroid memiliki efek sekunder pada Covid-19, yang artinya tidak langsung melawan virus. Berbeda dengan remdesivir, yang dapat menghambat virus.
Obat, yang dikembangkan oleh Gilead Sciences, telah disetujui untuk digunakan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) di bawah aturan "penggunaan darurat " pada 1 Mei.
Gilead Sciences sebelumnya mengklaim bahwa obat ini bermanfaat bagi pasien, tetapi data yang kuat masih kurang, sampai sekarang. Hal ini menjadikan hasil uji coba ACTT-1 yang ditunggu-tunggu menjadi penting.
Jadi, apakah semua pasien Covid-19 akan menerima remdesivir?
Penelitian menemukan pasien yang menerima remdesivir dapat membaik dan pulih lebih cepat, cenderung tidak mengembangkan Covid-19 menjadi penyakit parah, bisa pulang dari rumah sakit lebih cepat, dan memiliki tingkat kematian lebih rendah sebesar 11,4 persen.
Berdasarkan temuan positif ini, peneliti menarik kesempulan bahwa semua pasien infeksi virus corona harus menerima obat ini.
Namun, karena biayanya cukup besar, yakni USD 2.340 (sekitar Rp34,5 juta) untuk merawat satu pasien, jadi penggunaan terhadap semua pasien masih perlu dipertimbangkan.
Baca Juga: Protokol Kesehatan Ketat Reduksi Potensi Penyebaran Covid-19 di Bioskop
Di sisi lain penggunaan obat apa pun juga berpotensi menimbulkan konsekuensi negatif. Remdesivir pun belum ada cukup lama untuk memiliki rekam jejak dalam keamanannya, dan laporan efek samping pada pasien Covid-19 terus bertambah.
Perlu diingat bahwa ACTT-1 adalah uji coba yang relatif kecil dan pasien yang sakit parah mungkin lebih mendapatkan manfaat remdesivir.
Analisis subkelompok lain menunjukkan pasien Covid-19 yang menerima gabungan obat deksametason dan remdesivir diketahui memiliki hasil yang baik.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress
-
Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama
-
Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia
-
Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak
-
Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini
-
Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes
-
Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol
-
Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu
-
Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat
-
Jangan Anggap Sepele Gigi Berlubang, Ternyata Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak