Suara.com - Bukan hanya apada anak, vaksin juga dibutuhkan oleh orang dewasa. Hal tersebut diungkapkan oleh Dokter spesialis penyakit dalam sekaligus seorang vaksinolog, dr. Dirga Sakti Rambe, M .Sc, Sp.PD dalam diskusi FMB virtual, Kamis (15/10).
Ia mengatakan, vaksinasi bagi orang dewasa perlu dilakukan terutama jika saat kecil belum mendapat vaksinasi sama sekali.
Tidak hanya itu, Dirga juga menyinggung bagaimana sebagian besar vaksin memerlukan pengulangan dan merupakan kelanjutan vaksinasi pada saat anak-anak.
"Artinya pada saat kecil sudah pernah divaksinasi, tapi pada saat dewasa perlu diulang karena proteksi vaksinnya sudah habis atau perlu ditingkatkan lagi," kata Dirga seperti yang Suara.com kutip di Antara, Jumat (16/10).
Selain itu, urgensi vaksinasi untuk orang dewasa adalah adanya risiko pekerjaan, misal, pada seseorang yang berprofesi sebagai tenaga medis, hingga orang yang hendak bepergian dan membutuhkan vaksin seperti vaksin meningitis.
Ia melanjutkan, setidaknya ada 15 jenis vaksin yang direkomendasikan untuk dilakukan pada orang dewasa seperti Hepatitis A/B dan tetanus.
Secara spesifik, terutama selama pandemi seperti saat ini, mengutip dari WHO, Dirga juga menyarankan agar orang dewasa mendapatkan vaksinasi influenza dan pneumonia.
Mengutip data WHO, Dirga mengatakan setidaknya setiap tahun ada dua sampai tiga juta nyawa terselamatkan dari penyakit-penyakit yang bisa dicegah berkat vaksin.
"Ini proses bioteknologi yang sangat kompleks, sehingga sesudah pada hasil akhirnya terjamin amannya dan kualitasnya sehingga dapat diberikan secara massal," kata Dirga.
Baca Juga: Vaksin Covid-19 Tersedia April 2021 dan 4 Berita Kesehatan Lainnya
Meski begitu, Dirga tak memungkiri adanya efek samping pada beberapa jenis vaksin. Dia menyebut sebanyak 95 persen vaksin memiliki efek samping sangat ringan atau lokal seperti nyeri di bekas suntikan.
Beberapa vaksin juga dapat menyebabkan demam. Meski demikian, ia meyakinkan demam setelah vaksin merupakan tanda bahwa vaksin tengah bekerja dan sistem kekebalan tengah terstimulasi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
- Persija Sudah Temukan Pengganti Mauricio Souza, Target Juara Super League Musim Depan
- 5 Moisturizer Mengandung SPF untuk Pagi Hari, Melembapkan dan Mencerahkan Kulit
Pilihan
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
Terkini
-
Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining
-
Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengapa Lupus Lebih Banyak Menyerang Wanita?