Suara.com - Meminum kopi, mengonsumsi rokok serta alkohol ternyata bisa menyebabkan seseorang mengalami masalah tulang keropos atau osteoporosis.
Hal tersebut dikatakan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (PB Perosi), Dr dr Fiastuti Witjaksono, MKM MS, SpGK (K) pada Selasa (20/10/2020).
Kata Fiastuti -- konsumsi kopi, alkohol, asupan garam berlebih dan kebiasaan merokok (bahkan perokok pasif) dapat meningkatkan risiko seseorang terkena osteoporosis menjadi lebih tinggi.
"Asupan rokok ini misalnya karena di dalamnya terdapat zat nikotin yang berbahaya dan mengakibatkan bisa mempercepat proses penghancuran sel tulang pada pengguna," ujar Fiastuti dalam pernyataannya secara virtual.
Selain itu, nikotin juga dapat membuat kadar dan aktivitas hormon estrogen dalam tubuh berkurang. Akibatnya, kemampuan susunan sel tulang berkurang karena tidak kuat dalam menghadapi proses pelapukan.
"Kemudian alkohol ini juga bersifat toksik (beracun), sehingga menghambat proses pembentukan massa tulang manusia," tegasnya.
Sementara itu, kata dia, pengurangan kepadatan massa tulang manusia biasanya terjadi di usia 30 tahun ke atas, yang juga menyebabkan berkurangnya kualitas hormon testosteron. Itulah sebabnya, sangat disarankan untuk melakukan gaya hidup sehat sejak dini.
Masyarakat juga diminta memaksimalkan penyerapan kalsium, yakni mengonsumsi vitamin D atau berjemur sekitar setengah jam di pagi hari, antara pukul 07.00 sampai 10.00 pagi.
"Kita sebenarnya sangat beruntung tinggal di negara tropis yang pantas menjadi lokasi terbaik menjemur. Dan ini disarankan untuk selalu dikerjakan rutin menjemur, apabila tidak bisa coba mungkin melakukannya seminggu tiga kali," katanya.
Baca Juga: Hari Osteoporosis Sedunia, Yuk Kenali 5 Faktor Risikonya!
Osteoporosis sendiri biasanya tak pernah menampakkan gejala. Pengeroposan yang biasa menyerang tulang ekor, tulang punggung dan pangkal paha ini sering diketahui ketika seseorang sudah mengalami patah tulang.
Itulah sebabnya, Fiastuti meminta agar setiap masyarakat memeriksakan keadaan tulangnya sedini mungkin lewat alat bone mass densitometer setidaknya setahun sekali. Namun sayangnya, biaya pemeriksaan ini masih mahal dan tak semua rumah sakit memiliki alat tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- 7 Bedak Wardah yang Tahan Lama Seharian, Makeup Flawless dari Pagi sampai Malam
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak
-
Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026
-
Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS