Suara.com - Pada dasarnya tidur nyenyak dan berkualitas selama 7 hingga 8 jam memang penting untuk kesehatan. Tidur juga bisa menjaga kekebalan tubuh. Dengan begitu, bisakah tidur berkualitas mengurangi risiko Covid-19?
"Tidur yang tidak cukup mengganggu pertahanan tubuh dan meningkatkan risiko penyakit yang parah," kata dokter Dr. Jigar Haria, profesor Penyakit Dalam di Teerthanker Mahaveer Medical College pada India Today.
Tak hanya itu, Dr, Sandeep Nayar Direktur Senior dan HOD Chest and Penyakit Pernafasan di Rumah Sakit BL Kapoor juga menyatakan bahwa tidur selama 7-8 jam bisa bantu membangun kekebalan.
"Tidurlah setidaknya 7-8 jam setiap hari. Ini adalah cara terbaik untuk membantu tubuh Anda membangun kekebalan. Jika Anda tidak cukup tidur, Anda akan merasa lelah karena mengganggu Anda dan aktivitas otak," kata Dr. Nayar.
"Kurang tidur akan menghalangi tubuh untuk beristirahat dan memulihkan diri. Hal ini akan mengganggu fungsi tubuh lainnya yang akan berdampak langsung pada kekebalan Anda," imbuhnya.
Melalui fungsinya yang disebut bisa meningkatkan kekebalan, lalu bagaimana tidur bisa membantu menangkal infeksi virus corona Covid-19?
Dalam menjawab pertanyaan tersebut dokter Haria menekankan bahwa penularan virus corona Covid-19 tergantung pada bagaimana seseorang berkontak dengan virus. Oleh karena itu, baginya masker masih menjadi pelindung utama.
"Tertular virus Covid-19 bergantung pada paparan virus dari orang yang terinfeksi melalui sekresi pernapasan yang dibuang saat berbicara, batuk, bersin, dan lainnya. Jadi masker sangat penting untuk semua orang," kata dokter Hariya.
Namun ia menambahkan bahwa tidur yang bisa meningkatkan kekebalan berguna pada penurunan risiko keparahan jika telah terinfeksi.
Baca Juga: Jelang Perayaan Hari Kematian, Meksiko Tutup Pemakaman demi Tekan Covid-19
"Tingkat keparahan penyakit tergantung pada pertahanan tubuh terhadap virus yaitu sistem kekebalan dan beban virus. Semakin tinggi beban virus dan semakin lemah kekebalan, maka semakin besar risiko penyakit yang parah," imbuhnya.
Hal tersebut juga dinyatakan oleh dokter Nayar di mana kekebalan tubuh seseoang akan memengaruhi keparahan Covid-19.
"Bukan hanya viral load dan perawatan dini yang menentukan tingkat keparahan gejala, tetapi juga tergantung pada kekebalan pasien," kata Dokter Nayar.
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak
-
Bisa Remisi, Ini Cara Mengendalikan Diabetes Tanpa Bergantung Obat
-
Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan
-
Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan
-
96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan
-
Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak
-
Dipicu Kebutuhan Tampil Percaya Diri, Kesadaran Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Naik Saat Ramadan
-
Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari
-
Tes Genetik Makin Terjangkau, Indonesia Targetkan 200 Ribu Sequencing DNA untuk Deteksi Penyakit
-
Kenali Ragam Penyakit Ginjal dan Pilihan Pengobatan Terbaiknya