Suara.com - Patah hati bukan hanya perasaan yang tidak berwujud. Rasa sakit hati sebenarnya dapat memengaruhi jantung secara fisik.
Kondisi ini disebut sindrom patah hati, atau yang dikenal sebagai kardiomiopati Takotsubo, terjadi ketika seseorang mengalami stres fisik maupun emosional secara tiba-tiba atau akut yang dapat dengan cepat melemahkan ventrikel kiri jantung.
Pengertian dan penyebab sindrom patah hati
Kardiomiopati Takotsubo pertama kali dideskripsikan di Jepang pada 1990-an. Secara fisik kondisi ini terlihat saat ventrikel kiri, ruang pompa utama jantung, menggelembung, sementara pangkal jantung berkontraksi.
Kondisi ini bisa saja berbahaya karena berdampak negatif pada kemampuan jantung dalam memompa darah secara benar, lapor Insider.
Dokter pengobatan darurat dan kepala petugas medis Intuitive Health, Jay Woody, MD, menjelaskan bahwa sindrom patah hati dipicu oleh respons emosional atau fisik parah, yang memengaruhi otot jantung secara langsung.
American Heart Association mengatakan sindrom patah hati dapat terjadi pada orang yang sehat.
Sindrom ini mengacu pada fakta bahwa kondisi ini dapat disebabkan oleh peristiwa traumatis emosional yang berdampak negatif pada jantung.
Woody mengatakan contoh paling umum dari pemicu stres yang dapat menyebabkan kondisi ini adalah kesedihan karena kehilangan orang yang dicintai.
Baca Juga: Mengenali Sindrom Meniere, Gangguan Telinga yang Diidap Jessie J
Perasaan takut, marah terkejut, dan emosi lain yang intens juga bisa menjadi pemicunya.
Sebuah studi 2020 menunjukkan adanya 7,8% peningkatan pasien sindrom patah hati sejak pandemi virus corona terjadi, dibanding 1,7% sebelum Covid-19 mewabah.
Kardiomiopati Takotsubo juga dapat disebabkan oleh stres fisik, seperti kesulitan bernapas, gula darah rendah, stroke, kejang, demam tinggi, cedera parah, hingga kehilangan darah berlebih.
Peristiwa menyenangkan, seperti menghadiri pesta kejutan atau memenangkan lotre, dapat menyebabkan sindrom ini.
"Terlepas dari penyebab stres, respons tubuh serupa seperti mengeluarkan sejumlah besar hormon stres adrenalin dalam beberapa kasus, dapat menyebabkan kardiomiopati Takotsubo, yang dapat menyerupai serangan jantung," tutur Jennifer Haythe, MD, ahli jantung perawatan kritis di Columbia University Center.
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Harga Adidas Adizero Termurah Tipe Apa Saja? Ini 5 Varian Terbaiknya
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
Pilihan
-
Buntut Polemik Suket Pendidikan Gibran, Subhan Palal Juga Gugat Pimpinan DPR-MPR
-
Tok! Eks Sekretaris MA Nurhadi Divonis 5 Tahun Penjara dan Wajib Bayar Uang Pengganti Rp137 Miliar
-
Aksi Tenang Nenek Beruban Curi TV 30 Inci di Jatinegara Viral, Korban Tak Tega Lapor Polisi
-
Panglima TNI: Tiga Prajurit yang Gugur di Lebanon Terima Santunan Miliaran dan Pangkat Anumerta
-
Swasta Diimbau Ikut WFH, Tak Ada Sanksi Menanti
Terkini
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak
-
Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026
-
Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS
-
Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat
-
Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem