Suara.com - Pakar kesehatan China mengimbau Australia, yang akan menggunakan vaksin Covid-19 Pfizer/BioNTech kepada orang tua, menunda prosedur perizinannya sampai Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyelidiki kasus kematian di Norwegia.
China menyarankan, untuk program vaksinasi massal, Australia perlu memperluas pilihan vaksin, misalnya dengan membeli vaksin produksi mereka.
Melansir Global Times, Australia telah memesan 10 juta dosis vaksin produksi Pfizer, dan berencana menyetujui penggunaan vaksin tersebut pada akhir bulan ini.
Sebanyak 190.000 orang dalam perawatan lansia dan penyandang cacat masuk ke dalam kelompok prioritas. Karenanya, kematian 23 lansia di Norwegia telah menimbulkan kekhawatiran bagi Australia.
Menteri Kesehatan Federal Greg Hunt pun telah meminta regulator medis Australia, Therapeutic Goods Administration (TGA), untuk mencari informasi tambahan, baik dari perusahaan dan regulator medis Norwegia.
Tapi, TGA mengeluarkan pernyataan bahwa kematian di Norwegia merupakan efek jangka pendek umum yang dialami sejumlah orang setelah vaksinasi. Efek tersebut adalah demam, mual, serta diare.
"Reaksi merugikan yang umum setelah imunisasi ini diperkirakan tidak akan menjadi signifikan pada sebagian besar orang yang divaksinasi dengan vaksin Pfizer BioNTech," kata TGA dalam situsnya.
TGA mengatakan akan terus bekerja sama dengan regulator Eropa dalam beberapa hari mendatang untuk menyelidiki laporan tersebut dan akan menentukan apakah peringatan khusus tentang risiko vaksinasi pada lansia yang sangat lemah atau sakit parah harus disertakan dalam produk vaksin Pfizer.
Di sisi lain, masalah ini justru telah mendorong para ahli dari Australia untuk memberi saran pemberian vaksin alternatif kepada orang tua dan orang yang rentan.
Baca Juga: Norwegia Sebut Kematian Lansia dan Vaksin Pfizer Tidak Berhubungan
"Jika orang berusia di atas 85 tahun di panti jompo rentan terhadap efek vaksin Pfizer, maka mereka (pemerintah) dapat menggunakan vaksin lain, (contohnya) vaksin AstraZeneca," kata Sajnjaya Senanayake dari Australian National University.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sepatu Tanpa Tali 'Kembaran' Skechers Versi Murah, Praktis dan Empuk
- 6 Rekomendasi Sabun Mandi di Alfamart yang Wangi Semerbak dan Antibakteri
- Tembus Pelosok Bumi Tegar Beriman: Pemkab Bogor Tuntaskan Ratusan Kilometer Jalan dari Barat-Timur
- Bupati Kulon Progo Hapus Logo Geblek Renteng hingga Wajibkan Sekolah Pasang Foto Kepala Daerah
- Ahmad Sahroni Resmi Kembali Jabat Pimpinan Komisi III DPR, Gantikan Rusdi Masse
Pilihan
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
-
Jadwal Buka Puasa Bandar Lampung 21 Februari 2026: Waktu Magrib & Salat Isya Hari Ini
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
-
Impor Mobil India Rp 24 Triliun Berpotensi Lumpuhkan Manufaktur Nasional
Terkini
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang
-
Cuma Pakai Dua Jari, Dokter Ungkap Cara Deteksi Sakit Jantung dari Raba Nadi
-
Bukan Cuma Blokir, Ini Kunci Orang Tua Lindungi Anak di Ruang Digital
-
Sedih! Indonesia Krisis Perawat Onkologi, Cuma Ada Sekitar 60 Orang dari Ribuan Pasien Kanker
-
Lebih dari Sekadar Sembuh: Ini Rahasia Pemulihan Total Pasien Kanker Anak Setelah Terapi