Suara.com - Minimnya pengetahuan masyarakat tentang penanganan kusta jadi salah satu alasan Indonesia belum dinyatakan bebas penyakit tersebut. Masih banyak masyarakat yang belum paham cara menangani jika salah satu anggota keluarga terinfeksi kusta.
Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin dr. Zunarsih, Sp.KK mengatakan kusta memang bisa menular, namun persentase penularannya sangat kecil. Itu sebabnya, jika ada anggota keluarga yang terinfeksi kusta, tidak perlu dikarantina atau hidup terpisah dari keluarga, cukup langsung diobati dengan memeriksakan diri ke dokter.
"Karena penderita kusta, setelah diobati, dia sudah tidak menular lagi, jadi tidak perlu isolasi sendiri, alat-alat makannya dipisah, itu tidak perlu," ujar dr. Zunarsih dalam acara diskusi di Kementerian Kesehatan RI beberapa waktu lalu.
Setelah berhasil deteksi dini kasus kusta dan diberi obat oleh dokter termasuk petugas puskesmas, maka pastikan keluarga yang terinfeksi kusta rutin mengonsumsi obat.
"Pastikan saja pasien kusta itu minum obat teratur setiap hari. Insyaallah setelah 2 minggu tidak tertular lagi," jelas dr. Zunarsih.
Kusta adalah salah satu penyakit kulit menular yang paling sulit untuk menular, mengingat saat ini 95 persen populasi masyarakat Indonesia sudah memiliki kekebalan alami terhadap kusta.
"Sisa 5 persennya yang bisa menular atau tertular, hanya 2 persennya yang jatuh sakit, dan 3 persennya yang akan sembuh sendiri," papar dr. Zunarsih.
Kusta atau lepra adalah penyakit yang disebabkan infeksi bakteri Mycrobacterium Leprae yang menyerang jaringan kulit, saraf tepi, hingga saluran napas. Biasanya ditandai dengan melemahnya atau mati rasa pada tungkai, kaki, dan diikuti lesi kulit.
Kusta bisa ditularkan melalui pernapasan alias droplet air liur yang mengandung bakteri. Namun perlu kontak erat yang sangat dekat dan lama dengan penderita, baru kusta bisa menular.
Baca Juga: Sama-sama Ditandai Bercak Putih di Kulit, Ini Beda Kusta dan Panu
"Biasanya yang tertular adalah orang yang terkontak erat dan lama dengan pasien kusta. Kustanya juga harus tipe basah, dan itu juga yang belum diobati," pungkas Zunarsih.
Berita Terkait
Terpopuler
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- Anggota DPR Habiburokhman sampai Turun Tangan Komentari Kasus Erin Taulany vs eks ART
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- 8 Sepatu Skechers yang Diskon di MAPCLUB, Bisa Hemat hingga Rp700 Ribu
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
Terkini
-
Studi Baru Temukan Mikroplastik di Udara Kota, Dua Pertiganya Berasal dari Sumber Tak Terduga
-
Ibu Hamil Rentan Cemas, Meditasi Disebut Bisa Bantu Jaga Kesehatan Mental
-
Apa Itu Patah Tulang Selangka? Cedera Ngeri Alex Marquez di MotoGP Catalunya 2026
-
Obat Diabetes dan Obesitas Bentuk Pil Makin Diminati, Pasien Dinilai Lebih Mau Berobat
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat