Health / Konsultasi
Selasa, 02 Februari 2021 | 16:24 WIB
Ilustrasi virus Corona Covid-19. (Shutterstock)

Suara.com - Selain menghadapi pandemi Covid-19, masyarakat dan pemerintah juga dihadapkan dengan banyaknya berita palsu terkait dengan Covid-19 dan pandemi. Peristiwa itu kerap dikenal dengan istilah infodemic.

Maraknya berita palsu itu, tentu saja berpengaruh terhadap penanganan pandemi. Hal itu akan membuat banyak masyarakat sulit menemukan informasi yang tepat sehingga membuat penanganan makin sulit.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) mencatat sejak 23 Januari 2020 – 1 Februari 2021 menemukan ada 1.402 kasus hoaks terkait COVID-19. Khusus untuk vaksin, Kemkominfo menangani 97 temuan hoaks terkait vaksin COVID-19 hingga 1 Februari 2021.

Lantas, apa sebenarnya motif dari pelaku yang menyebarkan hoaks terkait Covid-19? Koordinator Pengendalian Internet Ditjen APTIKA Kemkominfo Drs. Anthonius Malau, M.Si., menyebut bahwa motivasi pelaku penyebar hoaks sangat beragam.

Ilustrasi Covid-19 (Elements Envato)

“Motivasi, kan, bisa beragam. Ada yang motif ekonomi, politik, atau iseng-seng agar akun sosmednya banyak yang klik orang atau banyak followersnya, begitu. Memang kami hanya menduga, itu bukan berdasarkan riset,” paparnya kepada Suara.com, (02/02/2020).

Ia mengatakan bahwa pihaknya terus berupaya untuk mengurangi penyebaran hoaks dan menindak pelaku yang mendistribusikannya.

“Dalam melakukan kewajiban ini, Pemerintah berwenang melakukan pemblokiran terhadap konten-konten itu, dan berwenang untuk memutus aksesnya,” ungkapnya.

Anthonius juga mengajak masyarakat untuk bisa menyaring informasi sebelum mempercayainya. Selain itu, ia mengimbau masyarakat untuk bisa saling mengingatkan jika ada orang terdekat yang menyebarkan hoaks.

“Kalau meragukan, mari kami mengajak Bapak/Ibu mengirimkan konten tersebut ke Kominfo,” ungkapnya.

Baca Juga: Lebih Banyak Orang yang Divaksinasi di AS Dibanding yang Positif Covid-19

(Penulis: Aflaha Rizal)

Load More