Suara.com - Nyeri leher mungkin paling mungkin terkait dengan ketegangan leher akibat terlalu terpaku dengan layar atau sebagainya. Padahal nyeri leher bisa terjadi akibat masalah lainnya.
Melansir dari Healthsots, sebuah penelitian baru menemukan bahwa meskipun postur leher dan kepala yang buruk memang merupakan penentu utama nyeri leher, namun indeks massa tubuh, usia, dan waktu juga memengaruhi kemampuan leher untuk melakukan gerakan yang berkelanjutan atau berulang.
Studi ini dipimpin oleh para peneliti di Texas A&M University dan dipublikasikan secara online di jurnal Human Factors.
"Nyeri leher adalah salah satu penyebab kecacatan terkemuka dan yang tumbuh paling cepat di dunia," kata Xudong Zhang, profesor di Departemen Teknik Industri dan Sistem Wm Michael Barnes.
"Penelitian kami menunjukkan kombinasi faktor pekerjaan dan pribadi yang sangat memengaruhi kekuatan dan daya tahan leher dari waktu ke waktu. Lebih penting lagi, karena faktor-faktor ini telah diidentifikasi mereka kemudian dapat dimodifikasi sehingga leher berada dalam kesehatan yang lebih baik dan rasa sakit dapat dihindari atau dicegah," kata Zhang.
Menurut Global Burden of Disease Study yang dilakukan oleh Institute for Health Metrics and Evaluation, sakit leher menempati peringkat keempat sebagai penyebab utama kecacatan global. Salah satu penyebab utama nyeri leher telah dikaitkan dengan gaya hidup, terutama ketika orang menghabiskan waktu yang lama dengan leher ditekuk ke depan.
Untuk percobaan mereka, Zhang dan timnya merekrut 20 pria dewasa dan 20 wanita dewasa tanpa masalah terkait leher sebelumnya untuk melakukan pengerahan tenaga kepala-leher terkontrol di lingkungan laboratorium.
Alih-alih meminta peserta untuk menahan postur leher tertentu untuk waktu yang lama, mirip dengan apa yang mungkin terjadi di tempat kerja, mereka melakukan pengerahan tenaga kepala-leher terus-menerus sampai kelelahan.
Ketika Zhang dan timnya menganalisis data, mereka menemukan bahwa faktor terkait pekerjaan seperti postur kepala atau leher memainkan peran yang sangat penting dalam menentukan kekuatan dan daya tahan leher. Tetapi mereka juga mengamati bahwa indeks massa tubuh juga prediktor yang signifikan untuk ketahanan leher.
Baca Juga: Jangan Ditunda! Segera Lakukan Diet Jika Kamu Mengalami 5 Tanda Ini
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Sepeda Murah Kelas Premium, Fleksibel dan Awet Buat Goweser
- 5 HP Murah RAM Besar di Bawah Rp1 Juta, Cocok untuk Multitasking
- 5 City Car Bekas yang Kuat Nanjak, Ada Toyota hingga Hyundai
- Link Epstein File PDF, Dokumen hingga Foto Kasus Kejahatan Seksual Anak Rilis, Indonesia Terseret
Pilihan
-
Viral Dugaan Penganiayaan Mahasiswa, UNISA Tegaskan Sanksi Tanpa Toleransi
-
5 HP RAM 8 GB untuk Multitasking Lancar Harga Rp1 Jutaan Terbaik Februari 2026
-
Ivar Jenner Gabung Dewa United! Sudah Terbang ke Indonesia
-
3 Emiten Lolos Pemotongan Kuota Batu Bara, Analis Prediksi Peluang Untung
-
CV Joint Lepas L8 Patah saat Pengujian: 'Definisi Nama Adalah Doa'
Terkini
-
Melawan Angka Kematian Kanker yang Tinggi: Solusi Lokal untuk Akses Terapi yang Merata
-
Atasi Batuk Ringan hingga Napas Tidak Nyaman, Pendekatan Nutrisi Alami Kian Dipilih
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini
-
Solusi Bijak Agar Ibu Bekerja Bisa Tenang, Tanpa Harus Mengorbankan Kualitas Pengasuhan Anak
-
Dokter Saraf Ungkap Bahaya Penyalahgunaan Gas Tawa N2O pada Whip Pink: Ganggu Fungsi Otak!
-
Tidak Semua Orang Cocok di Gym Umum, Ini Tips untuk Olahraga Bagi 'Introvert'