Suara.com - Antropolog evolusi di Universitas Duke dan penulis Burn New Research Blows the LId Off How We Really Burn Calories, Lose Weight, and Stay Healthy, Herman Pontzer, mengatakan olahraga mungkin bukan strategi yang efektif penurunan berat badan jangka panjang.
Berdasarkan penelitiannya, olahraga tidak selalu membantu seseorang membakar banyak kalori karena tubuh memiliki cara untuk beradaptasi dengan mengurangi penggunaan energi.
"Olahraga tidak mengubah berapa banyak kalori yang Anda keluarkan, tetapi bagaimana Anda 'membelanjakannya'," kata Pontzer, dilansir Insider.
Menurutnya, diet atau pola makan dan olahraga merupakan dua hal yang berbeda karena memiliki tugas masing-masing.
"Diet adalah alat untuk menurunkan berat badan. Olahraga adalah alat untuk yang lainnya," sambungnya.
Berolahraga untuk menurunkan berat badan didasarkan pada asumsi bahwa aktivitas tersebut membakar kalori dengan kecepatan konstan.
Tetapi dalam studi ini, Pontzer justru menemukan orang yang berjalan berkilo-kilo meter setiap hari membakar kalori lebih sedikit dari rerata orang yang tidak banyak bergerak.
"Pengamatan ini menunjukkan, persamaan metabolisme latihan lebih merupakan kurva, artinya semakin banyak Anda berolahraga, semakin hati-hati tubuh Anda mengatur energi," ujar Pontzer.
Meski begitu, membakar energi lebih baik untuk kesehatan tubuh, terlepas dari penurunan berat badan.
Baca Juga: Lakukan Diet Ala Idol K-pop, Wanita Ini Malah Masuk Rumah sakit
Menurut data Pontzer, tubuh ingin tetap pada anggaran kalori sama, entah Anda berolahraga atau tidak aktif sama sekali. Ini disebut kerangka energi yang dibatasi.
Kerangka kerja energi yang dibatasi ini menjelaskan olahraga membantu tubuh mengeluarkan energi berlebih untuk menjaga sistem kekebalan dan respon stres lebih seimbang.
Langkah penelitian selanjutnya yang akan dilakukan adalah menguji bagaimana teori tersebut bekerja, untuk melihat apakah pengaruh olahraga terhadap sistem dan sel dalam tubuh dapat diukur.
Jika berhasil, teori tersebut juga dapat membantu menjelaskan mengapa gaya hidup modern, tidak banyak bergerak , dan pola makan olahan sangat buruk bagi kesehatan. Serta dapat membantu ahli mencari solusinya.
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga