- Trump kendalikan 50 juta barel minyak Venezuela; harga WTI turun ke USD 56,35 per barel.
- Surplus minyak dunia diprediksi bengkak 3 juta barel per hari pada semester I-2026.
- Alihan kargo minyak dari China ke AS memperparah kekhawatiran kelebihan pasokan global.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia terkoreksi pada perdagangan Rabu (7/1/2026), menyusul pengumuman mengejutkan dari Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.
Melalui pernyataan resminya, Trump mengungkapkan kesepakatan pasokan baru di mana Venezuela akan menyalurkan 30 hingga 50 juta barel minyak ke pasar AS, setelah sebelumnya tertahan oleh sanksi.
Sentimen ini langsung menekan harga pasar. Mengutip Investing.com, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 1,37% ke level USD 56,35 per barel. Sementara harga minyak mentah Brent merosot 1% menjadi USD 60,09 per barel.
Trump secara tegas menyatakan bahwa dirinya akan memegang kendali penuh atas hasil penjualan minyak tersebut. "Uang itu akan dikendalikan oleh saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, untuk memastikan uang itu digunakan untuk kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat!" tulis Trump dalam media sosialnya.
Ahli Strategi Pasar di Moomoo ANZ, Tina Teng, menilai langkah Trump ini merupakan sinyal bahwa AS lebih memilih strategi peningkatan pasokan. Dampaknya, kekhawatiran pasar global akan kelebihan pasokan (oversupply) kian nyata. Apalagi, kargo-kargo minyak Venezuela yang sebelumnya ditujukan ke China dilaporkan mulai dialihkan rutenya menuju Amerika Serikat.
Saat ini, aliran minyak dari Venezuela sepenuhnya dikendalikan oleh Chevron, mitra usaha patungan PDVSA yang memiliki otorisasi khusus dari AS. Chevron tercatat konsisten mengekspor sekitar 100.000 hingga 150.000 barel per hari ke Amerika Serikat tanpa gangguan.
Namun, analis dari Haitong Futures, Yang An, memperingatkan bahwa fokus pasar yang terlalu besar pada dinamika geopolitik membuat banyak pihak mengabaikan fakta kelebihan pasokan di pasar fisik. Kondisi ini diperparah dengan harga minyak Timur Tengah yang kian melemah.
Morgan Stanley pun memproyeksikan surplus minyak dunia akan membengkak hingga 3 juta barel per hari pada semester I-2026, akibat perpaduan antara lesunya permintaan global dan lonjakan produksi dari negara-negara anggota OPEC+.
Baca Juga: Greenland Punya Tambang Melimpah, Trump Ngotot Mau Caplok Usai Serang Venezuela
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Arya Iwantoro Anak Siapa? Ternyata Ayahnya Eks Sekjen Kementan yang Pernah Diperiksa KPK!
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Pilihan
-
Sadis! Pria di Bantul Tewas Ditebas Parang di Depan Anak Istri Saat Tertidur
-
Minta Restu Jokowi, Mantan Bupati Indramayu Nina Agustina Bachtiar Gabung PSI
-
Sumsel Berduka, Mantan Gubernur Alex Noerdin Meninggal Dunia
-
Debut Berujung Duka, Pemain Senegal Meninggal Dunia Usai Kolaps di Lapangan
-
Di Tengah Jalan Raya, Massa Polda DIY Gelar Salat Gaib Massal untuk Korban Represi Aparat
Terkini
-
Rupiah Menguat, Dolar Melemah Setelah Pidato Kenegaraan Trump yang Kontroversial
-
Telkom Solution Perkuat Sinergi Lintas Industri, Dorong Akselerasi Ekonomi Nasional Berbasis Digital
-
Wamen Investasi Klaim Perjanjian Tarif dengan AS Tak Ganggu Kemandirian Indonesia
-
Ignasius Jonan Resmi Jadi Komisaris SOHO, Manajemen Ungkap Alasan Perombakan
-
Menuju Solar Based Economy: Tantangan Regulasi dan Pendanaan Program PLTS 100 GW Presiden Prabowo
-
Indonesia Terbitkan Obligasi Euro dan Yuan, Gangdeng Tiga Bank Terkemuka
-
Produsen Mie Sedaap Bantah Ada PHK Jelang Lebaran 2026
-
Toko Perhiasan Impor Kadali Pemerintah Lewat 'Barang Spanyol', Negara Tekor Triliunan Rupiah
-
PPRO Lepas Gembok, Ini Daftar Pemegang Sahamnya
-
Bonus Hari Raya Ojol Diumumkan Bareng SE THR Pekerja