Suara.com - Batuk memang penyakit umum yang bisa dialami siapa saja. Tetapi bukan berarti boleh dianggap sepele. Sebab batuk juga bisa saja menjadi gejala dari sakit kronis akibat infeksi saluran napas.
"Seringkali masyarakat menyepelekan batuk. Padahal batuk itu bisa menjadi gejala awal, jadi sinyal dari tubuh kita harus segera berhati-hati, jangan sampai terjadi kerusakan pada paru yang lebih lanjut. Jadi walaupun hanya sekadar batuk, kita harus ke dokter spesialis paru mendapatkan pengobatan dan perawatan yang lebih lanjut," kata perawat RSUP Fatmawati, Jakarta, Yunita Devianti, S.Kep., dalam siaran langsung Radio Kesehatan Kemenkes, Senin (3/4/2021).
Ada kondisi batuk yang patut diwaspadai sebagai gejala dari penyakit kronis, lanjut Yunita. Seperti, batuk yang tidak kunjung sembuh meski sudah diobati selama lebih dari dua minggu. Selain itu juga diikuti dengan penurunan berat badan secara drastis dan terjadi sesak napas.
"Kalau sampai sesak nafas dan sakit dadanya itu harus benar-benar konsultasi dengan dokter. Jangan ambil risiko konsumsi obat hanya karena tetangga sebelah cocok. Karena berbeda-beda reaksi obat pada setiap tubuh," jelasnya.
Yunita mengatakan bahwa obat juga cara perawatan setiap pasien dengan infeksi saluran pernapasan bisa berbeda-beda karena harus disesuaikan dengan diagnosa medis yang dilakukan dokter. Terlebih, ada banyak macam penyakit yang terkait dengan saluran pernapasan.
"Ada TBC, pneumonia kemudian ada juga TPOK, asma juga paling banyak. Lalu kanker paru, itu yang sering kita dengar," tambahnya.
Ia mencontohkan, jika pasien alami batuk tetai tidak bisa mengeluarkan dahak karena terlalu kental, maka kemungkinan diagnosa dilakukan dengan harus membersihkan jalan napasnya.
Menurut Yunita, pasien dengan dahak terlalu kental akan menutupi jalan napas sehingga bisa berakibat sesak.
"Maka kami tegakkan diagnosis dengan bersihkan jalan nafas karena ada sumbatan di jalan napasnya sehingga tidak bisa bernafas. Dengan cara kami ajarkan cara batuk efektif. Kemudian kami sarankan pasien untuk minum air hangat untuk encerkan dahak. Tapi kami tidak bisa menjalankan terapi secara mandiri harus berkolaborasi dengan dokter," paparnya.
Baca Juga: Tetap Olahraga Meski sedang Sakit, Apakah Hal yang Baik?
Tag
Berita Terkait
-
Waspadai 9 Gejala Kesehatan Ini: Biasa Dianggap Sepele, Bisa Jadi Gejala Kanker
-
Batuk saat Puasa? Begini Cara Mengatasinya tanpa Batal
-
Pneumonia Bakteri vs Virus pada Anak: Apa Bedanya dan Bagaimana Penanganannya?
-
Si Kecil Batuk? Tenang, Ini Solusi Alami Tanpa Obat yang Aman dan Ampuh
-
7 Ramuan Tradisional Ampuh untuk Mengatasi Batuk Kering
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
Terkini
-
Perawatan Kulit Personal Berbasis Medis, Solusi Praktis di Tengah Rutinitas
-
Implan Gigi Jadi Solusi Modern Atasi Masalah Gigi Hilang, Ini Penjelasan Ahli
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026