Suara.com - Dua vaksin Covid-19 yang banyak digunakan, Pfizer dan Moderna kemungkinan akan tetap kuat melindungi terhadap pengembangan penyakit serius. Bahkan pada varian baru virus corona.
Melansir Medicinenet, kedua vaksin tersebut didasarkan pada teknologi messenger RNA (mRNA). Menurut para peneliti, vaksin dengan teknologi ini dapat menerapkan berbagai tingkat pertahanan untuk menjaga varian virus corona. Studi ini telah diterbitkan pada Journal of Clinical Investigation.
"Penting untuk dicatat bahwa hanya waktu yang akan memberi tahu apakah vaksin benar-benar melindungi terhadap virus corona manusia lainnya," kata penulis studi Dr. Joel Blankson memperingatkan, seorang profesor kedokteran di Johns Hopkins Medicine, di Baltimore.
Menurut Blankson, baik vaksin Pfizer maupun Moderna sebenarnya melakukan dua hal sekaligus. Di satu sisi, vaksin memicu sistem kekebalan untuk memproduksi antibodi pelindung.
Pada saat yang sama, vaksin juga menyebabkan sistem kekebalan menghasilkan "sel-T pembantu" yang dikenal sebagai limfosit T CD4 +.
"Dan sel-T akan membunuh sel yang terinfeksi, untuk membantu mencegah penyebaran infeksi," kata Blankson.
Sel T CD4 + melakukan ini dengan menggerakkan rantai peristiwa yang meningkatkan kekebalan, termasuk aktivasi sel T "pembunuh" yang sangat kuat yang dikenal sebagai CD8 +.
Setelah melakukan analisis sampel darah yang mendalam, tim Blankson menemukan bahwa sel-T pembunuh semacam itu tampaknya menjaga virus corona tetap dalam garis bidik sistem kekebalan, bahkan untuk mengendalikan infeksi dengan varian baru.
Analisis darah melibatkan 30 pria dan wanita, dengan rentang usia 20 hingga 59 tahun. Semua telah divaksinasi dengan dua dosis dari salah satu dari dua vaksin mRNA. Dari relawan tersebut, tidak ada yang dinyatakan positif Covid-19 baik sebelum vaksinasi atau sesudahnya.
Baca Juga: Update 4 Mei: Tambah 416, Jumlah Kasus Corona Jakarta Capai 411.573 Orang
Seperti yang dimaksudkan, vaksin mRNA pertama-tama memicu produksi versi "protein lonjakan" yang tidak berbahaya yang ditemukan di permukaan virus corona.
Hal ini yang pada gilirannya meluncurkan sistem kekebalan setiap penerima ke dalam tindakan, menghasilkan antibodi untuk melawan infeksi.
Menurut Blankson, Sel-T dan antibodi mengenali berbagai bagian protein lonjakan dan bagian dari protein varian yang memungkinkan menghindari sebagian dari respons antibodi.
Namun jika variannya dapat lolos dari respons antibodi dan menginfeksi sel, sel-T mampu membunuh sel yang terinfeksi sebelum virus bereplikasi ke tingkat tinggi yang akan menyebabkan penyakit parah.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
Terkini
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan
-
Kebutuhannya Berbeda dengan Dewasa, Ini 5 Alasan Si Kecil Perlu ke Dokter Gigi Anak