Suara.com - Mendengkur saat tidur mungkin dianggap hal biasa. Padahal kondisi itu bisa menunjukan atau menjadi tanda awal adanya suatu penyakit tertentu. Salah satunya hipertensi.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr. Susetyo Atmojo mengatakan, secara medis, mendengkur disebut juga kondisi obstructive sleep apnea.
"Kita sebut kondisi medis obstructive sleep apnea, jadi kondisi mendengkur pada saat tidur itu merupakan salah satu penyebab hipertensi. Tapi umumnya adalah hipertensi sekunder," kata dokter Susetyo dalam siaran langsung Radio Kesehatan Kemenkes, Senin (17/5/2021).
Ia menjelaskan, hipertensi sekunder artinya tekanan darah tinggi yang disebabkan akibat kebiasaan mendengkur atau konstruktif. Seseorang yang mengalami kondisi itu perlu melakukan tatalaksana penanganan obstructive sleep apnea tersebut agar tak lagi mendengkur saat tidur.
"Jika itu bisa kita reduksi, kita kurangi tekanannya, syukur-syukur kita hilangkan, maka secara otomatis tekanan darah seseorang tersebut akan menurun," ucapnya.
Ia menambahkan, faktor risiko timbulnya hipertensi dibagi menjadi dua. Pertama, faktor risiko yang bersifat individual atau melekat pada seseorang seperti keturunan secara genetik. Dokter Susetyo menyampaikankan bahwa faktor risiko tersebut sulit untuk diubah.
"Jika semua anggota keluarga memiliki hipertensi maka ada kemungkinan besar nanti kita juga akan memiliki hipertensi," ucapnya.
Selain itu, ada juga faktor lain seperti usia lanjut dan jenis kelamin.
"Usia lebih dari 60 tahun, maka 30 persen lebih berisiko alami hipertensi. Kemudian jenis kelamin. Disebutkan bahwa jenis kelamin laki-laki itu lebih mudah menderita hipertensi dibandingkan jenis kelamin wanita," imbuhnya.
Baca Juga: Paraesthesia Jadi Tanda Bahaya Pasien Hipertensi, Apa Itu?
Faktor risiko kedua, terkait dengan pola hidup atau perilaku hidup yang kurang sehat. Kebiasaan merokok, kurang beraktivitas fisik, kurang berolahraga, konsumsi garam harian cukup tinggi dapat memicu terjadinya tekanan darah jadi melonjak.
"Kemudian jika tipikal orang yang pekerjaannya mudah stres kemudian kurang konsumsi serat. Juga obesitas, kegemukan itu merupakan faktor-faktor risiko yang saya pikir harus diubah. Karena justru faktor risiko kedua inilah yang lebih banyak berpengaruh terhadap timbulnya hipertensi pada seseorang," terangnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Hasil Akhir: Kalahkan Persija, Persib Bandung Juara Paruh Musim
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
Terkini
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya