Suara.com - Program vaksinasi Covid-19 tengah gencar dilakukan di seluruh dunia termasuk Indonesia guna menekan angka sebaran virus corona penyebab sakit Covid-19.
Dengan cakupan vaksinasi yang tinggi, diharapkan Indonesia dapat 'terlindungi' dari Covid-19 lewat terbentuknya herd immunity atau kekebalan kelompok.
Meski demikian, seorang Epidemilog dari Universitas Indonesia Dr. Pandu Riono mengatakan bagaimana konsep herd immunity merupakan konsep yang imajiner.
“Mereka percaya dengan konsep herd immunity, jadi menghitung berapa persen alokasi persen untuk mencapai herd immunity. Padahal itu tidak mungkin tercapai, dan konsep itu sangat imajiner,” ungkapnya pada acara webinar Covid Masih Ada, Sabtu (22/5/2021).
Ia mengatakan, herd immunity yang imajiner laiknya itung-itungan matematika.
"Mungkin bisa dihitung. Tapi apakah bisa (terjadi herd immunity)? Belum tentu. Bahkan lewat buku epidemiolog yang terbaru, indeks herd immunity sudah dihapus," ungkapnya.
Ia pun meminta agar pemerintah dan masyarakat berhenti mengandalkan konsep herd immunity.
"Untuk mencapai vaksin lewat perhitungan awal 85 persen, itu tidak mungkin di Indonesia. Indonesia saja tidak punya pabrik vaksin, bahkan Indonesia sangat luas, apalagi dengan angka,” paparnya.
Karena itu, ia menegaskan untuk mengendalikan pandemi tidak harus mencatat cakupan vaksinasi hingga 85 persen. Kata Pandu, cakupan vaksinasi 45 persen saja sudah bisa mengendalikan sebaran kasus infeksi.
Baca Juga: Ini yang Dirasakan Dwi Sasono dan Widi Mulia usai Vaksin Covid-19
Ia juga menyebut bagaimana target herd immunity dari cakupan vaksinasi sampai 85 persen terkesan seperti laiknya dongeng.
"Jadi konsep herd immunity itu hampir tidak mungkin diceritakan dengan mudah. Tapi orang membayangkan seperti suatu keajaiban laiknya dongeng. Padahal realitanya tidak mungkin terjadi. Kenapa? Karena tidak mungkin orang mau semuanya divaksinasi," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
Terkini
-
World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak
-
Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern
-
Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua
-
Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan
-
Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!