Suara.com - Banyak negara dalam kawasan Asia-Pasifik, termasuk Indonesia, sedang berjuang mengupayakan program vaksinasi Covid-19 ketika kasus infeksi semakin meningkat pesat. Bahkan, beberapa di antaranya sampai mencapai tingkat memecahkan rekor.
Negara-negara di Asia-Pasifik secara kolektif telah memberikan sekitar 23,8 dosis vaksin Covid-19 per 100 orang, berdasarkan analisis yang dikumpulkan dari situs statistik Our World in Data per satu Juni.
Itu jauh di bawah Amerika Utara sekitar 61,4 dosis per 100 orang daa Eropa 48,5 dosis per 100 orang.
Afrika merupakan wilayah dengan dorongan vaksinasi paling lambat, dan hanya 2,5 dosis yang diberikan untuk setiap 100 orang.
Menurut profesor di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hong Kong Benjamin Cowling, banyak pemerintah nagara-negara di Asia memiliki masalah dalam mengamankan vaksin Covid-19.
Selain itu, keberhasilan awal dalam menahan penyebaran virus corona di Asia kemungkinan telah membuat masyarakat menganggap vaksinasi sebagai tindakan yang kurang mendesak.
"Ketika kami memiliki kasus infeksi yang sangat sedikit dalam setahun terakhir, ada persepsi bahwa Covid tidak terlalu berisiko dan kami bisa tetap nol (kasus) jika kami hanya memakai masker, menjaga jarak, (maka) tidak terburu-buru untuk divaksinasi," jelas Cowling, dilansir CNBC.
Jadi menurutnya, keraguan telah menjadi masalah besar.
India, Nepal, Malaysia, Jepang, dan Taiwan termasuk ke dalam negara yang memecahkan rekor jumlah kasus harian tertinggi dalam sebulan terakhir.
Baca Juga: Sertifikat Vaksin Covid-19 Jadi Syarat Terima Bansos di Subulussalam
Akibatnya, pemerintah setempat memberlakukan pembatasan baru sebagai upaya menurunkan kasus infeksi virus corona.
Ekonom di bank Prancis Natixis menyebut Indonesia, Thailand, Taiwan, Filipina, dan Vietnam sebagai negara yang masih gagal mendapatkan dosis yang diperlukan untuk imunisasi massal.
"Konon, permintaan tetap lemah dari masyarakat. Skeptisme terhadap vaksin yang baru dikembangkan tampaknya menjadi alasan umum keragu-raguan yang muncul secara global," tulis Natixis.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Bupati Kulon Progo Hapus Logo Geblek Renteng hingga Wajibkan Sekolah Pasang Foto Kepala Daerah
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
Pilihan
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
-
Jadwal Buka Puasa Bandar Lampung 21 Februari 2026: Waktu Magrib & Salat Isya Hari Ini
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
Terkini
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang
-
Cuma Pakai Dua Jari, Dokter Ungkap Cara Deteksi Sakit Jantung dari Raba Nadi
-
Bukan Cuma Blokir, Ini Kunci Orang Tua Lindungi Anak di Ruang Digital
-
Sedih! Indonesia Krisis Perawat Onkologi, Cuma Ada Sekitar 60 Orang dari Ribuan Pasien Kanker
-
Lebih dari Sekadar Sembuh: Ini Rahasia Pemulihan Total Pasien Kanker Anak Setelah Terapi