Suara.com - Bagi orang dengan kondisi autoimun mungkin bertanya-tanya bagaimana vaksin Covid-19 bekerja pada mereka. Apalagi bagi mereka yang menginsumsi obat-obatan.
Penyakit autoimun bisa meliputi rheumatoid arthritis (RA), arthritis psoriatik, spondylitis aksial, lupus, dan vaskulitis.
Melansir dari Everyday Health, para peneliti di Israel menunjukkan bahwa vaksin Covid-19 mungkin aman dan efektif untuk orang dengan Rheumatoid arthritis (RA). Penelitian ini telah diterbitkan pada jurnal Annals of the Rheumatic Diseases.
Penelitian menguji hampir 700 orang dengan penyakit RA dan arthritis psoriatik serta mereka yang menggunakan obat-obatan untuk mengendalikan penyakit mereka. Mereka diberikan vaksin Pfizer-BioNTech dalam dua kali suntikan.
Peneliti kemudian membandingkan temuan mereka dengan 121 kelompok kontrol sehat yang juga mendapat suntikan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar orang dengan kondisi ini sekitar 86 persen memiliki respons imun yang kuat usai vaksinasi. Meskipun persentase ini tidak mencapai 100 persen seperti yang terlihat pada kelompok kontrol, namun vaksin masih bekerja dengan baik.
Efek samping dari vaksin ringan dan mirip dengan yang terlihat pada populasi umum. Kabar lebih baiknya, orang dengan penyakit ini tidak mengalami lonjakan penyakit akibat vaksinasi.
“Ini adalah penelitian yang meyakinkan dalam kelompok subjek yang cukup besar yang mendukung kemanjuran vaksinasi terhadap Covid-19 pada penyakit rematik autoimun,” kata Richard Bucala, MD, PhD, kepala reumatologi, asma, dan imunologi di Yale School of Medicine di New Haven, Connecticut.
Perlu dicatat bahwa beberapa pengobatan bisa menumpulkan respons vaksin. Orang yang memakai terapi anti-TNF dan penghambat interleukin-17 serta interleukin-6 ditemukan memiliki respons imun terkuat, lebih dari 97 persen.
Baca Juga: Kabar Baik, Satgas COVID-19 Pastikan Masyarakat Usia di Atas 18 Tahun Boleh Divaksinasi
Sementara mereka yang menderita RA memiliki respons imun yang sedikit lebih rendah, 82 persen. Tingkat terendah, di bawah 40 persen,ditemukan pada orang dengan miositis dan vaskulitis.
Yang paling bermasalah adalah orang-orang yang menggunakan antibodi monoklonal Rituxan (rituximab). Obat tersebut secara signifikan merusak imunogenisitas vaksinasi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
Pilihan
-
6 HP Murah dengan Kamera Terbaik Januari 2026, Harga Mulai 2 Jutaan
-
Cek Fakta: Yaqut Cholil Qoumas Minta KPK Periksa Jokowi karena Uang Kuota Haji, Ini Faktanya
-
Kontroversi Grok AI dan Ancaman Kekerasan Berbasis Gender di Ruang Digital
-
Hasil Akhir: Kalahkan Persija, Persib Bandung Juara Paruh Musim
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
Terkini
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya