Suara.com - Paket menu BTS Meal dari McDonald's yang berkolaborasi dengan grup band Korea, BTS, diserbu para ARMY (sebutan penggemar BTS) sejak hari pertama peluncurannya di Indonesia. Terlebih, paket itu merupakan limited edition dan hanya tersedia selama satu bulan.
Tak heran jika konsumsi fast food, terutama dikalangan anak muda para ARMY, mungkin melonjak. Paket BTS meal tersebut terdiri dari 9 potong nugget, kentang goreng ukuran medium, saus spesial, dan segelas minuman soda. Mau tahu jumlah kalori dari satu paket BTS Meal?
Melansir dari laman resmi McDonald's, setiap empat buah nugget dari produk mereka mengandung 170 kalori. Sementara dalam BTS Meal ada sembilan nugget yang berarti jumlahnya menjadi sekitar 382 kalori.
Sementara kentang goreng medium mengandung 350 kalori dan segelas minuman soda ukuran 355 mililiter mengandung sekitar 140 kalori. Total, jumlah kalori yang Anda santap dalam satu paket menu tersebut adalah 872 kalori. Ini belum ditambah dengan kalori dari saus spesial yang termasuk dalam paket tersebut, ya.
Ahli nutrisi Dr. dr. Tan Shot Yen mengatakan, dengan menyantap satu paket BTS Meal, otomatis seseorang mengalami kenaikan kalori dalam tubuhnya. Bahkan seperti menggabungan dua waktu makan.
"Itu setara dengan sarapan plus makan siang. Kalori, lho, ya. Kualitas? Jangan ditanya!" kata dokter Tan dihubungi suara.com, Jumat (11/6/2021).
Ia menambahkan bahwa dalam komposisi fast food memang bisa saja tetap ada karbohidrat, protein, dan lemak sebagai sumber nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Tetapi itu semua bukan dengan kualitas yang sehat. Meski kalori yang terkandung mencapai dua kali lipat dari porsi sekali makan, masalah mengonsumsi fast food bukan hanya tentang bertambahnya berat badan.
"Tapi ada rentetan masalah hormonal dan reaksi metabolisme. Dan jujur aja, sekali makan ya memang nggak akan bikin besok gemuk. Tapi justru merasa "nggak apa-apa" itulah yang akan menyulut ketagihan berikutnya," ucap dokter Tan.
Karena itu, bagi orang yang memang ingin menaikan berat badan, jangan dulu merasa senang jika yang dikonsumsi harian justru lebih banyak fast food. Dokter Tan menjelaskan bahwa dalam menaikan berat badan bukan sekadar melihat angka timbangan yang bertambah. Tapi juga penting perhatikan kualitas makanan yang dikonsumsi.
Baca Juga: 5 Artis Ikutan Beli BTS Meal, Ada yang Sumbangkan Bungkusnya!
"Jika ingin naik berat badan tapi naik kolesterol juga, kekentalan darah, risiko jantung dan pembuluh darah serta gangguan hormonal, lalu gimana?" pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 43 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 7 Maret 2026: Klaim 10 Ribu Gems dan Kartu Legenda
- 6 HP Terbaik di Bawah Rp1,5 Juta, Performa Awet untuk Jangka Panjang
- 8 Rekomendasi Moisturizer Terbaik untuk Mencerahkan Wajah Jelang Lebaran
- Langkah Progresif NTT: Program Baru Berhasil Hentikan Perdagangan Daging Anjing di Kupang
- Siapa Istri Zendhy Kusuma? Ini Profil Evi Santi Rahayu yang Polisikan Owner Bibi Kelinci
Pilihan
-
Patuhi Perintah Trump, Australia Kasih Suaka ke 5 Pemain Timnas Putri Iran
-
Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
-
BREAKING NEWS: Mantan Pj Gubernur Sulsel Tersangka Korupsi Bibit Nanas
-
Trump Cetak Sejarah di AS: Presiden Pertama yang Berperang Tanpa Didukung Warganya
-
IHSG Keok 3,27 Persen Terimbas Konflik Iran-AS, Bos BEI: Kita Sudah Kuat!
Terkini
-
Vaksin Campak Apakah Gratis? Ini Ketentuannya
-
Tak Hanya Puasa, Kemenkes RI Sarankan Kurangi Garam, Gula, dan Lemak saat Ramadan
-
Gaya Hidup Sehat dan Aktif Makin Jadi Pilihan Masyarakat Modern Indonesia
-
Empati Sejak Dini, Ramadan Jadi Momen Orang Tua Tanamkan Nilai Kebaikan pada Anak
-
Stop Target Besar! Rahasia Konsisten Hidup Sehat Ternyata Cuma Dimulai dari Kebiasaan Kecil
-
Bibir Sumbing pada Bayi: Penyebab, Waktu Operasi, dan Cara Perawatannya
-
5 Rekomendasi Susu Kambing Etawa untuk Jaga Kesehatan Tulang dan Peradangan pada Sendi
-
Mencetak Ahli Gizi Adaptif: Kunci Menghadapi Tantangan Malnutrisi di Era Digital
-
Tips Memilih Klinik Tulang Terpercaya untuk Terapi Skoliosis Non-Operasi
-
Presisi dan Personalisasi: Arah Baru Perawatan Kanker di Asia Tenggara