Suara.com - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan rekomendasi vaksin Covid-19 untuk anak dan remaja usia 12 hingga 17 tahun.
Hal ini menyusul Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI yang memperbolehkan vaksin Sinovac diberikan di bawah untuk usia 18 tahun.
Rekomendasi vaksinasi untuk anak ini ditandatangani Ketua IDAI, Prof. Dr. Aman Bhakti Bulungan dengan mempertimbangkan 12,5 persen kasus Covid-19 dialami anak usia 0 hingga 18 tahun, yang mengartikan 1 dari 8 anak Indonesia tertular Covid-19.
"Rekomendasi ini sifatnya dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan bukti-bukti ilmiah yang terbaru," tulis IDAI dalam rekomendasinya, dikutip suara.com, Selasa (29/6/2021).
Berikut 10 poin rekomendasi pemberian vaksin Covid-19 pada anak dan remaja:
1. Dapat dilakukan percepatan vaksinasi Covid-19 pada anak, menggunakan vaksin Covid-19 inactivated buatan Sinovac, karena sudah tersedia di Indonesia dan sudah ada uji klinik fase 1 dan 2, yang hasilnya aman dan serokonversi tinggi.
2. Berdasarkan prinsip kehati-hatian, sebaiknya imunisasi dimulai untuk umur 12 hingga 17 tahun dengan pertimbangan:
- Jumlah subjek uji klinis memadai.
- Tingginya mobilitas dan kemungkinan berkerumun di luar rumah.
- Mampu menyatakan keluhan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI), bila ada.
3. Dosis 0,5 mililiter, penyuntikan intra muskular di otot deltoid lengan atas, diberikan 2 kali dengan jarak 1 bulan.
Baca Juga: Banyak Nakes yang Gugur, IDI Usul Vaksin Ketiga untuk Paramedis yang Tangani Covid-19
4. Untuk anak umur 3 hingga 11 tahun, menunggu hasil kajian untuk menilai keamanan dan dosis dengan jumlah subjek yang memadai.
5. Kontraindikasi (disarankan tidak menjalani vaksinasi Covid-19.
- Efisiensi imun primer penyakit autoimun tidak terkontrol penyakit autoimun sindrom guillain barre, mielitis transversa (peradangan tulang belakang), acute demyelinating encephalomyelitis (radang otak dan sumsum tulang belakang).
- Anak pasien kanker yang sedang menjalani kemoterapi atau radioterapi.
- Sedang mendapat pengobatan imunosupresan atau sitostatika (obat kemoterapi) berat.
- Demam 37,5 derajat velcius atau lebih.
- Sembuh dari Covid-19, kurang dari 3 bulan.
- Pasca imunisasi lain kurang dari 1 bulan.
- Hamil
- Diabetes melitus tidak terkendali.
- Penyakit penyakit kronik atau kelainan kongenital tidak terkendali.
Imunisasi untuk anak dengan kanker dalam fase pemeliharaan penyakit kronis atau autoimun yang terkontrol, dapat mengikuti panduan imunisasi umum dengan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter penanggung jawab pasien sebelumnya.
6. Imunisasi dilakukan oleh tenaga kesehatan, dengan mematuhi panduan imunisasi dalam masa pandemi, yang telah disusun oleh Kementerian Kesehatan, IDAI dan organisasi profesi lain.
7. Pelaksanaan imunisasi dapat dimulai, setelah mempertimbangkan kesiapan petugas kesehatan, sarana, prasarana dan masyarakat.
8. Imunisasi bersamaan untuk semua penghuni rumah lebih baik.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lipstik Warna Apa yang Cocok di Usia 50-an? Ini 5 Pilihan agar Terlihat Fresh dan Lebih Muda
- 5 Rekomendasi Sampo Kemiri Penghitam Rambut dan Penghilang Uban, Mulai Rp10 Ribuan
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
Terkini
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya