Bisnis / Makro
Jum'at, 09 Januari 2026 | 14:55 WIB
BPS menempatkan mi instan dalam 10 besar komoditas penyumbang garis kemiskinan, di bawah beras dan rokok. Bagi 23,85 juta rakyat miskin, mi instan adalah pilihan paling masuk akal saat daya beli terpukul. Desain Syahda-Suara.com
Baca 10 detik
  • Sebungkus mi instan bukan sekadar urusan lidah, Ia adalah penyelamat saat dompet sekarat, sekaligus mesin uang konglomerat.
  • Mengapa semangkok mi instan bisa menjadi simbol kemiskinan sekaligus lambang kejayaan bisnis.
  • BPS menempatkan mi instan dalam 10 besar komoditas penyumbang garis kemiskinan, di bawah beras dan rokok.

Suara.com - Di Indonesia, sebungkus mi instan bukan sekadar urusan lidah, tapi cermin nyata struktur ekonomi nasional yang terbelah. Ia adalah "penyelamat" saat dompet sekarat, sekaligus "mesin uang" yang membuat konglomerat kian terpikat.

Mengapa semangkok mi instan bisa menjadi simbol kemiskinan sekaligus lambang kejayaan bisnis yang mapan?

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2025 menunjukkan angka kemiskinan nasional berada di level 8,47% atau 23,85 juta orang.

Lucunya secara metodologi, BPS menempatkan mi instan dalam 10 besar komoditas penyumbang garis kemiskinan, di bawah beras dan rokok. Bagi 23,85 juta rakyat miskin, mi instan adalah pilihan paling masuk akal saat daya beli terpukul.

Di Indonesia, tak ada waktu khusus untuk menyantap semangkuk mi instan, mulai dari sarapan hingga makan malam, baik sebagai hidangan utama, lauk maupun sekedar cemilan.

Garis Kemiskinan dan Kontribusi Mi Instan

Dalam struktur pengeluaran kelompok masyarakat miskin BPS, makanan adalah komponen terbesar, dan mi instan sering kali masuk dalam 10 besar komoditas penyumbang garis kemiskinan setelah beras dan rokok.

Ketika harga beras membumbung tinggi dan daging menjadi mimpi, mi instan hadir sebagai substitusi kalori yang paling berbaik hati.

BPS menempatkan mi instan dalam 10 besar komoditas penyumbang garis kemiskinan, di bawah beras dan rokok. Bagi 23,85 juta rakyat miskin, mi instan adalah pilihan paling masuk akal saat daya beli terpukul. Desain Syahda-Suara.com

Jika dilihat lebih dalam lagi soal data kemiskinan di Indonesia, sebanyak 11,03% kemiskinan ada di perdesaan, kondisi ini membuat distribusi mi instan yang menjangkau pelosok menjadi komoditas paling likuid dan paling banyak dikonsumsi saat daya beli tertekan.

Baca Juga: 10 Makanan Anti-Aging Terbaik untuk Menjaga Kulit Bercahaya Usia 40-an ke Atas

Indonesia Jadi Konsumen Mi Terbesar Dunia

Tengok saja data dari World Instant Noodles Association (WINA) yang menunjukkan Indonesia menjadi konsumen mi instan terbesar kedua di dunia pada 2024, dengan 14,68 miliar porsi, kita hanya kalah dari China yang melahap 14,68 miliar porsi.

Tapi soal permintaan produk mi instan, penduduk RI juaranya. Pertumbuhan industri ini pada November 2025 tercatat 3%-5%, berdasarkan laporan Macquarie. Angka ini lebih tinggi dibandingkan China (2%-3%) dan Filipina (single digit rendah).

Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira memperingatkan bahwa jika harga mi instan naik langsung berdampak pada rakyat miskin.

"Masyarakat kelas menengah rentan bisa dengan cepat jatuh ke kategori miskin baru jika harga komoditas ini tak terkendali," kata Bhima kepada Suara.com.

Menurutnya kenaikan harga mi instan efeknya akan sangat terasa pengaruhnya pada inflasi. Jumlah orang miskin baru nantinya akan naik, karena garis kemiskinan bakal menyesuaikan lebih tinggi lagi.

"Yang sebelumnya masyarakat termasuk ke kelas menengah rentan, bisa jadi masuk ke kategori miskin baru," kata Bhima.

Saat Ekonomi Sulit, Penjualan Justru Melejit

Di balik semangkok mi instan yang dilahap kelas menengah, terdapat struktur industri yang mendapatkan keuntungan, salah satunya Indofood milik keluarga Salim.

Karena dikonsumsi oleh puluhan juta orang setiap hari, produsen Indomie ini mampu menekan biaya produksi hingga sangat rendah, namun tetap meraup margin tipis yang berakumulasi menjadi triliunan rupiah.

Bisnis mi instan sering disebut recession-proof (tahan resesi). Saat ekonomi melambat, orang melakukan downgrading konsumsi dari makan di restoran mewah kembali ke seduhan mi instan di rumah.

Berdasarkan laporan keuangan hingga September 2025, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) melaporkan kenaikan penjualan neto konsolidasi sebesar 5%, dari Rp86,94 triliun pada tahun lalu menjadi Rp90,98 triliun di periode yang sama tahun 2025. Laba usaha naik impresif sebesar 12%, mencapai Rp18,10 triliun (dari Rp16,09 triliun) dan marjin laba usaha juga menguat, dari 18,5% menjadi 19,9%.

Indofood mencatatkan Core Profit (Laba Inti) yang mencerminkan kinerja operasional sebenarnya, yang berhasil naik tipis 1% menjadi Rp8,42 triliun (dari Rp8,30 triliun), menegaskan bahwa kegiatan utama bisnis makanan tetap berjalan positif.

"Indofood tetap dapat mempertahankan kinerja yang positif, didukung model bisnisnya yang terintegrasi secara vertikal. Kami akan tetap fokus dalam menghasilkan pertumbuhan secara organik, serta menjaga keseimbangan pangsa pasar dengan profitabilitas dan neraca yang sehat,” kata Direktur Utama dan Chief Executive Officer Indofood, Anthoni Salim.

Anthoni Salim tak salah soal model bisnis terintegrasinya karena konglomerasi ini menguasai semuanya, mulai dari impor gandum (Bogasari), distribusi, hingga rak-rak retail (Indomaret), memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan untuk sebungkus Indomie kembali masuk ke kantong grup yang sama.

Ironi Gizi di Negeri yang Gemar Mi

Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mengungkap fakta getir dimana sekitar 123 juta penduduk atau 43,5% Indonesia tidak mampu membeli makanan sehat. Pendapatan mereka hanya cukup untuk karbohidrat murah, namun minus nutrisi dan gizi.

Bhima Yudhistira menyebut ini sebagai Kemiskinan Struktural. Selama inflasi pangan belum bisa ditekan melalui swasembada, rakyat akan terus bergantung pada gandum impor yang diolah konglomerat.

Dalam laporan bertajuk The State of Food Security and Nutrition in the World (SOFI) 2025 itu disebutkan bahwa ketidakmampuan membeli makanan sehat didefinisikan sebagai kondisi ketika pendapatan seseorang tidak cukup untuk membeli kombinasi makanan bergizi termurah yang tersedia di dalam negeri, setelah dikurangi kebutuhan dasar non-makanan seperti perumahan dan transportasi.

Bhima menilai situasi di mana hampir setengah warga Indonesia masih mengalami masalah gizi atau undernutrition sebagai kondisi yang sangat mengkhawatirkan.

Menurutnya, laporan FAO tersebut sejalan dengan laporan Prospek Kemiskinan Makro (Macro Poverty Outlook) yang dirilis Bank Dunia pada awal April 2025.

Berdasarkan data tersebut, terdapat 194,4 juta orang atau sekitar 68,2 persen populasi Indonesia yang masuk kategori miskin jika mengacu pada standar negara berpendapatan menengah atas (upper middle income), sesuai status Indonesia saat ini.

"Artinya, persoalan gizi sangat berkaitan dengan kemiskinan dan rendahnya pendapatan kelompok menengah ke bawah," ujar Bhima.

Bagi si miskin, Indomie adalah kawan setia menahan lapar di kala duka, Bagi pengusaha, Indomie adalah aliran harta yang tak pernah ada habisnya.

Indomie adalah instrumen stabilitas sosial yang mencegah kelaparan massal, namun secara bersamaan menjadi instrumen akumulasi kekayaan yang sangat efisien. Setiap angka kemiskinan dirilis entah naik atau turun kemakmuran konglomerat nyaris tak terbentur.

Load More