Suara.com - Tahun kedua pandemi Covid-19 terasa lebih menantang bagi para tenaga kesehatan (nakes) untuk mempertahankan jumlah ibu menyusui memberikan ASI kepada bayinya.
Survei dari Health Collaborative Center (HCC) menunjukan, 62 persen nakes mengaku sulit mempertahankan ibu untuk menyusui dan tetap berikan ASI eksklusif selama masa pandemi.
"Artinya sekitar enam sampai tujuh dari sepuluh tenaga kesehatan Indonesia, terutama yang kerja di layanan primer, yang berhubungan langsung dengan ibu hamil dan menyusui, mengatakan sulit banget mempertahankan ibu tetap menyusui," kata peneliti utama HCC Dr. dr. Ray Wagiu, MKK., dalam konferensi pers virtual, Rabu (4/8/2021).
HCC mengidentifikasi ada empat faktor penting penyebab masalah tersebut.
Faktor pertama, sebanyak 57 persen nakes mengatakan bahwa kebanyakan fasilitas Kesehatan layanan primer, seperti puskesmas, tidak memiliki pelayanan antenatal care secara daring atau telemedicine selama pandemi Covid-19.
Dokter Ray mengatakan, selama pandemi pelayanan puskesmas bagi ibu hamil dan menyusui ditutup, tetapi sayangnya juga tidak ada pengganti layanan secara telemedicine. Padahal layanan secara daring itu juga penting untuk melakukan identifikasi kesehatan.
"Bahkan beberapa kelas menyusui juga dihentikan oleh pemerintah karena harus fokus pada penanganan Covid-19," imbuhnya.
Kedua, layanan kesehatan non Covid-19 di beberapa fasilitas kesehatan juga menjadi penghambat bagi nakes memantau ibu hamil dan ibu menyusui. Para nakes menyadari bahwa pemerintah saat ini sangat memprioritaskan penanganan Covid-19.
Sekalipun para nakes bisa menjangkau para ibu, namun 66 persen dari mereka mengaku tidak pernah mendapatkan pelatihan cara edukasi khusus manajemen laktasi selama pandemi.
Baca Juga: Ratusan Dokter Meninggal Akibat Covid-19, di Sumut Segini Jumlahnya
Meski berbagai informasi telah tersebar, seperti melalui situs Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) maupun Kementerian Kesehatan.
"Tapi mereka bilang bingung menerapkannya," imbuh dokter Ray.
Menurutnya, jika fasilitas kesehatan primer tidak memiliki pelayanan adenatal atau layanan ibu hamil dan menyusui secara telemedicine, berakibat 1,4 kali membebani kerja dokter dan bidan.
Padahal jika tidak ada pelatihan tenaga kesehatan atau protokol manajemen laktasi, yang terjadi 1,2 kali pelayanan kesehatan untuk ibu hamil dan menyusui akan terganggu atau bahkan gagal.
"Faktor ketiga, 42 persen juga mereka mengatakan tidak pernah ada ketersediaan informasi tentang menyusui yang aman selama masa pandemi di fasilitas kesehatan tempat mereka bertugas.
Keempat, 64 persen dari yang kerja di fasilitas pelayanan kesehatan primer tidak punya fasilitas khusus menyusui untuk pasien covid," paparnya.
Dokter Ray menyampaikan, pemerintah tidak bisa terus menerus mengabaikan hal tersebut. Bagaimanapun juga ASI eksklusif penting didapatkan bayi selama enam bulan pertama kehidupannya.
HCC menekankan pentingnya layanan telemedicine yang menghubungkan nakes dengan ibu hamil dan menyusui. Selain memantau kesehatan ibu dan anak, akses telemedicine juga bisa menjadi sarana membasmi hoaks yang didapatkan ibu seputar menyusui selama masa pandemi Covid-19.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Bedak yang Mengandung Niacinamide, Bantu Cerahkan Wajah dan Kontrol Sebum
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- Mitsubishi Destinator dan XForce Lagi Promo di Bulan Mei, Harga Jadi Segini
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
Pilihan
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
Terkini
-
Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan
-
Heboh Wanita Bekasi Tunjukkan Wajah Khas Gagal Ginjal, Waspadai Ciri-cirinya!
-
Diskon BRI untuk Paket MCU dan Perawatan Ortopedi di Primaya Hospital, Cek di Sini
-
IDAI Ingatkan Risiko Susu Formula di MBG: ASI Tak Bisa Digantikan Produk Pabrik
-
Jangan Asal Cari di Internet! Dokter Ingatkan Bahaya Self-Diagnosis saat Nyeri Dada
-
Hati-hati Memilih ART, Ini Alasan Rekrutmen Tradisional Justru Ancam Keamanan Keluarga
-
Cara Kerja Lensa HALT pada Kacamata Anak dengan Miopia, Cegah Mata Minus Makin Parah
-
Bukan Sekadar Estetik, Air Treatment Norium by AZKO Bantu Jaga Kesehatan Bayi di Rumah
-
WHO Tetapkan Wabah Ebola di Kongo Darurat Internasional, Risiko Kematian 32,5 Persen
-
Tak Cuma Gizi, Anak Juga Butuh Stimulasi Belajar agar Tumbuh Cerdas dan Tangguh