Suara.com - Kehamilan yang tidak diinginkan bisa mempengaruhi kualitas hidup dan masa depan seseorang. Demi mencegah ini terjadi, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) kembali menekankan pentingnya edukasi kesehatan reproduksi.
Kepala BKKBN Hasto Wardoyo menyebut pemberian edukasi kesehatan reproduksi bisa mencegah terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu.
“Ini juga lagi-lagi masalah kesehatan reproduksi, tidak paham tentang kesehatan reproduksi, sehingga seks bebas juga terjadi. Sebetulnya salah satu sumbernya karena tidak paham dengan kesehatan reproduksi. Oleh karena itu, kuncinya memberikan pemahaman tentang kesehatan reproduksi itu penting,” kata Hasto dalam Dialog Produktif Rabu Utama bertajuk “Program Keluarga Berencana di Masa COVID-19”.
Hasto menyebutkan alasan terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan, khususnya yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh tidak adanya pemakaian alat kontrasepsi pada ibu setelah melahirkan dan kurangnya pemahaman ibu soal kesehatan reproduksi.
Menurut dia, edukasi seksualitas terutama terkait dengan masalah kesehatan reproduksi sangat penting dan dapat diberikan sejak anak berada di bangku sekolah dasar.
Namun, penyampaiannya perlu disesuaikan dengan usia anak dan harus menggunakan visualisasi yang tidak mengundang rangsangan emosi seksual.
Ia memberikan contoh, pada anak laki-laki yang duduk di bangku pertama sekolah dasar, dapat dibuatkan sebuah modul yang membahas mengenai permasalahan ada tidaknya kelainan bawaan pada alat kelamin anak.
Sedangkan pada anak perempuan, misalnya yang duduk di kelas lima, dapat diterangkan bahwa saluran reproduksi yang dimiliki telah terhubung dari luar sampai dalam. Sehingga, anak dapat diajarkan untuk tidak bermain di tempat yang kotor supaya tidak ada kotoran yang masuk ke dalam organ intim.
Melalui modul itu, kata dia, anak dapat diajarkan bagaimana ciri-ciri, bentuk alat kelamin yang sehat dan bagaimana harus menjaga kebersihannya. Hal itu dapat dilakukan dengan bantuan dari guru atau pelatih yang berjenis kelamin sama.
Baca Juga: Era Baru Kesehatan Reproduksi di China: Aborsi untuk Tujuan Nonmedis Dilarang
“Kalau saya ingin memberikan pelajaran kepada anak kelas satu SD, modul yang saya buat adalah modul tentang masalah ada tidaknya kelainan bawaan. Kemudian yang menyampaikan guru atau pelatih yang sama-sama jenis kelaminnya. Laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan,” kata dia.
Hasto menegaskan kunci penting untuk dapat mengubah pola pikir masyarakat mengenai pemberian edukasi seksualitas merupakan hal yang tabu ialah melalui pengetahuan, supaya pola perilaku dan pola hidup masyarakat yang tidak baik menjadi berubah.
“Menurut saya, kuncinya adalah tentang perubahan mindset (pola fikir) dan perubahan mindset bisa terjadi kalau kita berikan masukan tentang pengetahuan. Terakhir, setelah ada pengetahuan, ada perubahan mindset baru. Dia akan berubah perilakunya atau kehidupan yang tidak positifnya,” kata Hasto. [ANTARA]
Berita Terkait
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Mudik Jadi Aman, Ini Daftar Lokasi Posko Layanan Keluarga BKKBN di Jalur Mudik Lebaran 2026!
-
Mudik Lebaran 2026, BKKBN Siapkan Posko Konsultasi Keluarga di 31 Provinsi
-
Deretan Artis yang Umumkan Kehamilan dan Kelahiran di Awal 2026
-
Zaskia Sungkar Bagikan Perkembangan Kehamilan usai Masuki Trimester Tiga
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- Banyak Banget, Intip Hampers Tedak Siten Anak Erika Carlina
Pilihan
-
Hizbullah Klaim Hancurkan Kapal Militer Israel Sebelum Serang Lebanon
-
Jusuf Kalla Mau Laporkan Rismon Sianipar ke Polisi! Ini Masalahnya
-
Di Balik Lahan Hindoli, Seperti Apa Perkebunan yang Jadi Lokasi 11 Sumur Minyak Ilegal?
-
Traumatik Mendalam Jemaat POUK Tesalonika Tangerang: Kebebasan Beribadah Belum Terjamin?
-
'Ayah, Ayah!' Tangis Histeris Keluarga Pecah saat Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur Tiba di Tanah Air
Terkini
-
17.500 Paket Gizi untuk Masa Depan: Langkah Konkret Melawan Stunting di Bekasi
-
Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Apakah Alat Traksi Leher Aman? Ini Penjelasan Medis dan Cara Menggunakannya
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin