Suara.com - Sebuah penelitian menemukan bahwa perempuan menyusui yang telah terinfeksi Covid-19 tetap mengeluarkan antibodi usai vaksin.
Selain melindungi bayi dari penyakit, antibodi ini juga dapat digunakan untuk mengobati orang dengan Covid-19 yang parah.
Melansir dari India Express, antibodi utama dalam ASI adalah Secretory Immunoglobulin A (IgA) yang menempel pada lapisan saluran pernapasan dan usus bayi. Kandungan ini menghalangi virus dan bakteri memasuki tubuh mereka.
Untuk penelitian ini, dokter Rebecca Powell dari rumah sakit Mount Sinai dan timnya menganalisis sampel ASI dari 75 perempuan yang sembuh dari Covid-19. Mereka menemukan bahwa 88 persen mengandung antibodi IgA.
“Artinya jika Anda terus menyusui, Anda masih memberikan antibodi itu dalam ASI Anda. Ini bisa menjadi terapi yang luar biasa karena IgA Sekretori dimaksudkan untuk berada di area mukosa ini, seperti lapisan saluran pernapasan, dan bertahan dan berfungsi dengan sangat baik di sana," ujar Powell.
"Anda bisa bayangkan jika itu digunakan dalam pengobatan jenis nebuliser, mungkin akan sangat efektif selama jendela di mana orang tersebut menjadi sangat sakit, tetapi mereka belum pada titik [dimasukkan ke perawatan intensif],” tambahnya.
Bereaksi terhadap penelitian ini, Dokter Sarika Gupta, konsultan senior, Onkologi dan Ginekologi Robotik, Rumah Sakit Indraprastha Apollo, New Delhi, mengatakan bahwa antibodi IgA ditemukan dalam ASI ibu menyusui yang sebelumnya terinfeksi terus disekresikan selama 10 bulan.
"Antibodi ini memberikan kekebalan pasif pada bayi dan juga berpotensi digunakan untuk mengobati infeksi COVID 19 pada pasien yang sakit," ujar dokter Gupta.
Dokter Gupta, mengatakan bahwa penelitian lebih lanjut akan diperlukan untuk memeriksa nilai penggunaan IgA yang berasal dari ASI dalam mengobati infeksi Covid-19.
Baca Juga: Kurang Tidur dan Gugup, Bocah 12 Tahun Pingsan Usai Vaksinasi Covid-19
Para peneliti juga menemukan bahwa perempuan yang divaksinasi memiliki antibodi spesifik virus dalam susu mereka.
“Kita tahu bahwa tingkat antibodi yang dihasilkan oleh vaksin RNA sangat tinggi dibandingkan dengan vaksin lain. Anda tidak perlu banyak antibodi untuk melindungi Anda dari infeksi, tetapi efek susu sangat tergantung pada banyak antibodi dalam darah Anda yang ditransfer ke dalam susu Anda," ujar dokter Gupta.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- 6 Sepeda Lipat Alternatif Brompton, Harga Murah Kualitas Tak Kalah
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
Pilihan
-
Hakim di PN Depok Tertangkap Tangan KPK, Diduga Terlibat Suap Ratusan Juta!
-
Eks Asisten Pelatih Timnas Indonesia Alex Pastoor Tersandung Skandal di Belanda
-
KPK Amankan Uang Ratusan Juta Rupiah Saat OTT di Depok
-
KPK Gelar OTT Mendadak di Depok, Siapa yang Terjaring Kali Ini?
-
Persib Resmi Rekrut Striker Madrid Sergio Castel, Cuma Dikasih Kontrak Pendek
Terkini
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD
-
Melawan Angka Kematian Kanker yang Tinggi: Solusi Lokal untuk Akses Terapi yang Merata
-
Atasi Batuk Ringan hingga Napas Tidak Nyaman, Pendekatan Nutrisi Alami Kian Dipilih
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini
-
Solusi Bijak Agar Ibu Bekerja Bisa Tenang, Tanpa Harus Mengorbankan Kualitas Pengasuhan Anak
-
Dokter Saraf Ungkap Bahaya Penyalahgunaan Gas Tawa N2O pada Whip Pink: Ganggu Fungsi Otak!