Suara.com - Operasi pengangkatan tumor payudara bukanlah tahapan awal penanganan kanker payudara menurut dokter bedah.
dr. Farida Briani Sobri, SpB(K)Onk mengatakan pada kanker stadium awal, bedah hanya bisa dilakukan jika ukuran tumor di bawah 2 cm.
Tetapi pada ukuran tumor lebih dari 2 cm dan kanker termasuk tipe agresif seperti triple negatif, HER2 positif, maka terapi sistemik yang dianjurkan untuk memperkecil ukuran tumor di payudara, mengurangi kemungkinan penyebaran jauh dan melihat respons.
Pembedahan pada kanker payudara terbagi menjadi beberapa macam, salah satunya mastektomi yakni mengangkat seluruh bagian payudara. Tindakan ini dilakukan dengan indikasi tergantung ukuran tumor terlalu besar, besar payudara dan ketidakmampuan mendapatkan batas sayatan sehingga tidak sesuai indikasi tindakan operasi konservasi payudara (BCS).
Dalam prosedur BCS, payudara tidak dihilangkan seluruhnya demi memberikan kualitas hidup lebih baik bagi pasien. Menurut Farida, BCS mensyaratkan batas sayatan harus bebas tumor.
Pembedahan juga bisa mencakup kelenjar getah bening di ketiak apabila biopsi menyatakan kanker invasif atau berpotensi menyebar ke organ lain. Sementara bila biopsi menunjukkan hasil in-situ artinya tumor masih terlokalisir belum punya potensi menyebar, maka tindakan pada ketiak tidak harus dilakukan, kecuali ada beberapa indikasi.
Di sisi lain, apabila tumor sudah berukuran lebih dari 2 cm, punya karakter agresif, maka rekomendasi dokter pemberian terapi sistemik terlebih dahulu. Pasien sebaiknya mendapatkan kemoterapi pra-operasi untuk menilai respons dan prognosis untuk menentukan terapi setelah operasi nanti.
Sementara itu, pada pasien kanker payudara stadium lanjut atau metastasik yakni sudah ada penyebaran ke organ lain seperti paru-paru, hati dan tulang, misalnya dengan HER2 positif, ada sejumlah pilihan terapi yang dapat diberikan pada pasien, salah satunya terapi target anti-HER2.
Terapi ini bertujuan menghambat kerja protein HER2 yang berperan pada pertumbuhan dan penyebaran kanker, semisal pemberian trastuzumab, atau kombinasi pertuzumab dan trastuzumab. Pada terapi ini efek yang samping yang perlu dipantau antara lain fungsi jantung, reaksi suntik, efek samping ke saluran cerna dan reaksi alergi.
Baca Juga: Jangan Takut Berobat, Dokter Ungkap Operasi Bukan Langkah Awal Penanganan Kanker Payudara
Terapi lainnya yakni kemo utuk mematikan sel-sel yang membelah cepat termasuk sel kanker. Efek samping tersering pada terapi ini antara lain gangguan pada sel darah dan saluran cerna, kerontokan rambut, gangguan pada saraf tepi dan fungsi jantung.
Lalu, bila pada pasien dengan reseptor hormon positif (ER/PR positif) maka bisa diberikan terapi hormonal yang bermanfaat menghambat produksi atau kerja hormone reproduksi wanita, Efek samping yang bisa muncul yakni gejala seperti menopause, fungsi jantung dan ostroporosis.
“Pada stadium lanjut, metastatis, maka pemberian anti-HER2 sampai seterusnya. Sampai kapan? Tidak tahu. Ini menjadi tantangan yang lain, masalah finansial menjadi problem utama karena selama memberikan respon yang baik maka harus diteruskan,” tutur dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi onkologi dari di Universitas Indonesia, dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM.
Jeffry menegaskan, pada stadium metastatik kanker masih dapat diterapi sehingga pasien jangan sampai kehilangan harapan untuk tetap hidup.
Dia menyimpulkan, penanganan kanker payudara bergantung sejumlah faktor yakni stadium, subtipe, kondisi pasien dan mutasi gen yang terjadi.
“Dulu, kalau ketemu kanker, operasi. Sekarang (operasi) ditaruh setelah kemoterapi,” demikian tutur dia yang tak menampik ada beberapa pasien yang justru ingin langsung menghilangkan kedua payudaranya. [ANTARA]
Tag
Berita Terkait
-
Menkes Budi: Cowok Perokok Red Flag, Perempuan Bakal Tanggung Risiko Kanker
-
Inovasi Terapi Kanker Kian Maju, Deteksi Dini dan Pengobatan Personal Jadi Kunci
-
Kisah Pasien Kanker Payudara Menyebar ke Tulang, Pilih Berobat Alternatif Dibanding Kemoterapi
-
Mitos atau Fakta: Biopsi Bisa Bikin Kanker Payudara Menyebar? Ini Kata Ahli
-
Gerakan Peduli Kanker Payudara, YKPI Ajak Perempuan Cintai Diri Lewat Hidup Sehat
Terpopuler
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 5 HP Baterai 7000 mAh Terbaru 2026, Tahan Seharian dan Kencang Mulai Rp1 Jutaan
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
Terkini
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?