- Banyak yang masih percaya jika kemoterapi untuk pengobtan kanker mengakibatkan kematian.
- Ada sebuah kasus, seorang wanita yang memilih berobat alternatif ketimbang kemoterapi setelah divonis kanker payudara.
- Namun setelah diradiasi, rupanya kanker payudara yang dialami sudah menyebar ke tulang sehingga akhirnya di-kemo.
Suara.com - Mitos pengobatan kanker seperti kemoterapi menyakitkan hingga menyebabkan kematian, membuat masyarakat beralih pada pengobatan alternatif yang akhirnya menghambat penanganan.
Pakar Onkologi Medis RS Gading Pluit, Prof. dr. Ikhwan Rinaldi, Sp.PD-KHOM, membagikan kisah pasien perempuan berusia 40 tahun yang mengidap kanker payudara, yang ‘termakan’ omongan tentang kemoterapi hingga mengalami penyebaran kanker yang lebih cepat sampai ke tulang.
“Banyak kasus-kasus yang datang ke kita ini, ada satu pasien yang karena mendengarkan bahwa kemoterapi itu serem, masih muda, 40 tahun. Akhirnya datang ke sini untuk diradiasi, karena sudah menyebar ke tulang,” ujar Prof. Ikhwan dalam Health Talk Kanker Payudara di RS Gading Pluit, Jakarta Utara, Kamis (6/11/2025).
Kemoterapi adalah prosedur pengobatan atau terapi kanker dengan memberikan obat-obatan untuk membunuh sel kanker.
Prof. Ikhwan mengatakan, kanker yang menyebar hingga tulang akhirnya membuat perempuan muda ini tidak bisa berjalan dan harus beraktivitas menggunakan kursi roda.
Pakar onkologi yang berpraktik di Gading Integrated Cancer Care (GICC) ini juga menyayangkan ketakutan perempuan tersebut terhadap kemoterapi, padahal kondisi kankernya terdeteksi pada stadium awal.
"Ya pasti awalnya satu dulu, tapi karena dia nggak mau di-kemo akhirnya dia cari alternatif. Dia dengerin temennya, dia dengerin siapa. Nah, begitu datang ke sini karena disinar, karena sudah menyebar ke tulang," paparnya.
Beruntung kini perempuan tersebut sudah mau menjalani terapi kemoterapi dan memiliki kondisi yang lebih baik dibanding saat ia menjalani pengobatan alternatif.
"Akhirnya kita obatin, sudah lebih baik lagi. Sekarang mau di-kemo. Malah minta chemo terus karena merasa lebih baik," jelas Prof. Ikhwan.
Baca Juga: Yuk Lebih Aware: Mitos vs Fakta Kanker Payudara yang Perlu Kamu Tahu
Di sisi lain, Prof. Ikhwan mengakui jika ada beberapa jenis kanker payudara yang bisa menyebar dengan cepat. Bahkan dalam kasus perempuan tersebut, kanker menyebar dalam waktu satu setengah tahun.
"Mungkin bisa satu setengah tahun atau satu tahun setengah. Tiga bulan aja udah menyebar kalau nggak diobatin dengan benar," paparnya.
Ia juga mengingatkan, saat ini kanker payudara memiliki beberapa subtype utama yang banyak ditemukan kasusnya di Indonesia maupun dunia, yaitu Hormonal, HER2 Positif, Triple Positif, dan Triple Negatif. Jenis-jenis kanker payudara ini memiliki karakteristik dan memerlukan rencana terapi yang berbeda.
"Untuk pasien HER2+, terapi inovatif seperti terapi neoadjuvan—pemberian terapi target atau kemoterapi sebelum operasi—terbukti sangat efektif. Terapi ini bertujuan untuk memperkecil ukuran tumor sehingga operasi bisa dilakukan dengan lebih optimal dan meningkatkan peluang kesembuhan pasien," ungkapnya.
Prof. Ikhwan juga meminta kaum hawa tidak perlu khawatir berlebih, karena semakin awal kanker terdeteksi maka semakin besar pula peluang remisi alias kesembuhan di atas 90 persen.
"Iya, benar (peluang sembuh). Kalau orang stadium 4 itu survive-nya dalam 5 tahun cuma 16 persen. Jadi dari 100 orang, cuma 16 orang yang bisa survive selama 5 tahun yang stadium 4. Tapi kalau ketemu stadium 1, stadium 2, bisa 98 persen. Jadi sebagian besar akan sembuh gitu, akan survive lebih dari 5 tahun," pungkas Prof. Ikhwan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 HP Baru Paling Murah Rilis Awal 2026, Fitur Canggih Mulai Rp1 Jutaan
- 6 Mobil Hybrid Paling Murah dan Irit, Cocok untuk Pemula
- 7 HP Terbaru di 2026 Spek Premium, Performa Flagship Mulai Rp3 Jutaan
- Pendidikan dan Karier Wakil Bupati Klaten Benny Indra Ardhianto yang Meninggal Dunia
- Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
Pilihan
-
Hasil Uji Coba: Tanpa Ampun, Timnas Indonesia U-17 Dihajar China Tujuh Gol
-
Iran Susah Payah Kalahkan Timnas Indonesia di Final Piala Futsal Asia 2026
-
LIVE Final Piala Asia Futsal 2026: Israr Megantara Menggila, Timnas Indonesia 3-1 Iran
-
Menuju Juara Piala Asia Futsal 2026: Perjalanan Timnas Futsal Indonesia Cetak Sejarah
-
PTBA Perkuat Hilirisasi Bauksit, Energi Berkelanjutan Jadi Kunci
Terkini
-
Perubahan Iklim Bikin Nyamuk DBD Makin Ganas, Dokter: Kini Bisa Berulang 2 Tahunan
-
Mengenal Ultra Low Contrast PCI, Pendekatan Tindakan Jantung yang Lebih Ramah Ginjal
-
Bukan Sekadar Timbangan: Mengapa Obesitas Resmi Jadi Penyakit Kronis di 2026?
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD
-
Melawan Angka Kematian Kanker yang Tinggi: Solusi Lokal untuk Akses Terapi yang Merata
-
Atasi Batuk Ringan hingga Napas Tidak Nyaman, Pendekatan Nutrisi Alami Kian Dipilih
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru