Suara.com - Pemerintah masih terus berupaya untuk bisa mengembalikan pandemi Covid-19. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Ditjen P2P Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengatakan bahwa salah satunya dengan mengendalikan menjadi endimi.
"Tidak ada yang tahu kan bagaimana kondisinya. Yang pasti, yang bisa kita lihat kondisinya yang membaik ini pastinya laju penularan yang semakin baik, penanganan pandemi COVID kita yang semakin baik," ujar Nadia dikutip dari ANTARA, Rabu, (20/10/2021).
Meski demikian, Nadia menyampaikan prediksi para pakar epidemiologi yang menyebut bahwa pandemi Coivid-19 bisa berakhir. Akan tetapi, tidak ada yang dapat memastikan kapan pandemi bisa berubah menjadi sebuah endemi.
Nadia menjelaskan salah satu syarat pandemi bisa berubah menjadi endemi adalah jika penyakitnya bisa terkendali. Pada kasus COVID-19, kondisi laju penularannya terus menurun dan hanya terjadi di beberapa tempat saja.
"Kondisi laju penularannya seperti kita ini, sudah banyak negara-negara yang sudah menurunkan kasusnya. Kalau endemi kan penyakitnya hanya pada beberapa tempat saja dan berpotensi terjadi peningkatan kasus tapi tidak meluas di seluruh wilayah," kata Nadia.
Juru bicara Satgas COVID-19 ini, mengatakan yang bisa dilakukan Indonesia untuk mempertahankan tren penurunan kasus COVID-19 saat ini adalah membuat pandemi lebih terkendali melalui cakupan vaksinasi.
"Itu adalah salah satu syarat untuk bisa terkendali pandeminya ini. Upaya apa yang harus dilakukan? Ya harus menekan terus jumlah kasus tersebut dan memberikan vaksinasi, deteksi dini untuk kasus-kasus yang positif, itu bisa dikendalikan dengan baik tentunya situasinya," ujarnya.
Lebih lanjut Nadia menjelaskan, jika kasus COVID-19 sudah terkendali dan cakupan vaksinasi telah mencapai angka 70 persen dari total populasi penduduk, maka tidak menutup kemungkinan Indonesia bisa seperti negara-negara di Eropa dan Amerika di mana tidak perlu lagi menggunakan masker di tempat terbuka.
"Kita lihat kan kemarin pertandingan Thomas Cup, penontonnya tidak menggunakan jarak lagi, kalau kasusnya sudah sangat rendah, kemudian deteksi dininya sudah sangat baik maka hal-hal itu sangat memungkinkan untuk dilakukan. Artinya prokesnya sudah mulai bisa terkendali," jelas Nadia.
Baca Juga: Satu-satunya di Sumut, Sibolga Berstatus PPKM Level 1
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- Daftar Pertanyaan Sensus Ekonomi 2026: Petugas BPS Datangi Rumah, Tanya Gaji dan Usaha
Pilihan
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
Terkini
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi