Suara.com - Selama ini telah diketahui bahwa berhubungan seks punya banyak manfaat bagi tubuh dan kesehatan. Kini sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa ada kaitan anatara hubungan seks dan perkembangan otak perempuan.
Dilansir dari NY Post, peneliti telah mengidentifikasi wilayah otak yang terkait dengan sentuhan genital pada perempuan. Mereka menemukan bahwa itu berkembang lebih baik pada mereka yang sering beruap di antara seprai.
Studi yang merangsang, yang diterbitkan Senin di Journal of Neuroscience, meneliti hubungan antara sentuhan dan perkembangan otak pada 20 perempuan dewasa.
Sebagai bagian dari penelitian, para sukarelawan perempuan - antara usia 18 dan 45 tahun - dirangsang klitoris mereka sementara otak mereka dipindai menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI).
Untuk stimulasi, benda bulat kecil dioleskan di atas celana dalam setinggi klitoris, menurut AFP, yang pertama kali melaporkan penelitian cabul itu.
Alat tersebut digetarkan sebanyak delapan kali, masing-masing selama 10 detik, diselingi dengan 10 detik istirahat.
Para peneliti juga bertanya kepada para sukarelawan perempuan seberapa sering mereka berhubungan seks selama setahun terakhir.
Hasil pencitraan menegaskan bahwa wilayah korteks somatosensori otak diaktifkan pada setiap perempuan ketika perangkat bergetar.
Para peneliti kemudian mengukur ketebalan area otak itu – menemukan bahwa itu lebih kuat pada sukarelawan perempuan yang dilaporkan melakukan hubungan seks paling banyak.
Baca Juga: Gegara Kanker Otak, Perempuan 22 Tahun Ini Terjebak di Tubuh Gadis Kecil
“Kami menemukan hubungan antara frekuensi hubungan seksual dan ketebalan bidang genital yang dipetakan secara individual,” kata rekan penulis studi Dr. Christine Heim, seorang profesor psikologi medis di Charite University Hospital di Berlin.
Dengan kata lain: Semakin banyak seks, semakin besar wilayahnya.
Namun, penelitian ini tidak dapat mengkonfirmasi apakah memiliki korteks somatosensori yang lebih berkembang mendorong lebih banyak hubungan seksual, atau apakah lebih banyak hubungan seksual memperluas wilayah otak itu, seperti melatih otot.
Para peneliti percaya itu bisa menjadi yang terakhir.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi