Suara.com - Penderita miopi atau mata minus tinggi di usia muda diminta berhati-hati, karena lebih berisiko alami ablasi retina atau lepasan lapisan retina, yang bisa berakibat kebutaan.
Ablasi retina dalam istilah medis disebut ablasio retina regmatogen atau rhegmatogenous retinal detachment (RRD), yaitu kondisi lepasnya lapisan retina yang disebabkan adanya lubang atau robekan retina.
Dikatakan Ketua Vitreo-Retina Service dan Dokter Spesialis Mata Subspesialis Vitreo-Retina JEC Eye Hospitals & Clinics, Dr. dr. Elvioza, SpM(K) bahwa tidak hanya lanjut usia (lansia) yang berisiko alami ablasi retina, tapi risiko ini lebih besar jika usia mudah sudah mengidap miopia.
Hal ini diungkap Dr. Elvioza dalam penelitian disertasinya di Universitas Gadjah Mada (UGM), yang membandingkan pasien ablasi retina usia muda dengan miopia dan pasien ablasi retina lansia tanpa miopi.
"Penelitian yang saya gagas ini, bertujuan membandingkan proses penuaan dini pada vitreus pasien RRD berusia muda yang menderita miopia dengan pasien RRD usia lanjut tanpa miopia," ungkap Dr. Elvioza dalam konferensi pers JEC Eye Hospitals & Clinics, Jumat (11/3/2022).
Vitreus adalah bagian berstruktur seperti jeli di dalam organ mata yang berfungsi mempertahankan bentuk mata dan menahan retina.
Dr. Elvioza mengatakan ablasi retina memang rentan terjadi pada orang usia di atas 50 tahun, ditambah di usia tersebut juga banyak orang yang juga alami miopi, sehingga memiliki dua faktor risiko.
"Pada usia muda dengan minus tinggi harus hati-hati, harus cek retinanya, apakah berpotensi terjadi ablasi retina atau terjadinya robekan," jelasnya.
Itulah sebabnya kata Dr. Elvioza, orang dengan miopia muda diminta lebih berhati-hati, dan rutin melakukan pemeriksaan retina, minimal 6 bulan sekali.
Baca Juga: Selama Pembelajaran Daring, Potensi Kebutaan pada Anak Naik 10 Persen
Ia menambahkan, acapkali ablasi retina terjadi secara mendadak, tapi ada gejala awal yang harus sangat diwaspadai sebelum benar-benar terjadi dalam waktu dekat.
"Jadi sebelum terjadi ada tanda-tandanya. Pertama apabila ada keluhan melihat flash kilatan sinar, kalau mata ditutup ada kilatan sinar di bola mata. Kemudian apabila titik-titik terbang seperti nyamuk banyak, itu cepat periksakan mata ke ahli retina," pesan Dr. Elvioza.
Adapun penelitian ini berlangsung, selama Maret 2020 hingga Agustus 2020 dengan melibatkan 40 subjek.
Berita Terkait
Terpopuler
- 9 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 9 HP Redmi RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan, Lancar Jaya Dipakai Multitasking
- Semurah Xpander Sekencang Pajero, Huawei-Wuling Rilis SUV Hybrid 'Huajing S'
- 5 Sepatu New Balance yang Diskon 50% di Foot Locker Sambut Akhir Tahun
- 5 Lem Sepatu Kuat Mulai Rp 3 Ribuan: Terbaik untuk Sneakers dan Bahan Kulit
Pilihan
-
Omon-omon Purbaya di BEI: IHSG Sentuh 10.000 Tahun Ini Bukan Mustahil!
-
Wajah Suram Kripto Awal 2026: Bitcoin Terjebak di Bawah $100.000 Akibat Aksi Jual Masif
-
Tahun Baru, Tarif Baru: Tol Bandara Soekarno-Hatta Naik Mulai 5 Januari 2026
-
Kutukan Pelatih Italia di Chelsea: Enzo Maresca Jadi Korban Ketujuh
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
Terkini
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan
-
Kesehatan Gigi Keluarga, Investasi Kecil dengan Dampak Besar
-
Fakta Super Flu, Dipicu Virus Influenza A H3N2 'Meledak' Jangkit Jutaan Orang
-
Gigi Goyang Saat Dewasa? Waspada! Ini Bukan Sekadar Tanda Biasa, Tapi Peringatan Serius dari Tubuh
-
Bali Menguat sebagai Pusat Wellness Asia, Standar Global Kesehatan Kian Jadi Kebutuhan