Suara.com - Pebalap Repsol Honda Marc Marquez terpaksa absen dari balapan MotoGP Mandalika 2022 karena mengalami kecelakaan di sesi pemanasan pada Minggu (20/3/2022).
Marc Marquez dinyatakan tidak fit untuk mengikuti MotoGP Mandalika 2022 yang merupakan seri kedua dari MotoGP musim ini pasca mengalami kecelakaan hebat di tikungan tujuh saat pemanasan.
Akibat kecelakaan itu, Marquez harus dilarikan ke rumah sakit setempat untuk menjalani pemeriksaan setelah mengalami highside jelang berakhirnya sesi pemanasan.
Setelah itu, Marquez dilaporkan sudah kembali ke Sirkuit Mandalika. Tetapi rider dengan nomor 93 itu dipastikan tak bisa mengikuti balapan.
Dalam buku aturan MotoGP, pebalap yang dipastikan mengalami gegar otak selama waktu pelaksanaan, harus segera dikeluarkan dari kompetisi.
Mereka hanya diperbolehkan untuk kembali apabila dinyatakan lulus penilaian dan memberikan bukti dokumen kembalinya fungsi neuro-psikologis normal menggunakan metode yang sesuai dengan Pernyataan Konsensus Internasional saat ini tentang Gegar Otak dalam Olahraga.
Cidera otak traumatis, atau dikenal sebagai gegar otak ringan, terjadi akibat benturan keras. Risikonya dapat merusak jaringan dan merobek selaput di dalam otak.
Gejala dari orang yang mengalami gegar otak di antaranya kehilangan ingatan, pusing, kebingungan, mual, dan sensitif terhadap cahaya. Gejala itu bisa bertahan selama berjam-jam atau bahkan hitungan bulan.
Apabila gegar otak terjadi secara berulang, seperti yang dialami Marquez, kemungkinan gejala bisa lebih meningkat.
Baca Juga: Sirkuit Diguyur Hujan Deras, Start MotoGP Mandalika Ditunda
Direktur medis Concussion Legacy Foundation Dokter Robert Cantu mengatakan bahwa konsekuensi gegar otak berulang pada pebalap bisa menyebabkan gejala menetap.
“Umumnya risiko terbesar adalah jika mereka belum sepenuhnya pulih dari gegar otak dan menderita lagi, gejalanya akan memburuk secara eksponensial. Lalu akan bertahan untuk waktu yang sangat lama,” kata profesor bedah saraf Universitas Boston terdebut, dikutip dari The Race.
Seiring waktu, gegar otak berulang juga dapat memengaruhi kemampuan kognitif atau gejala fisik. Cantu mengatakan, orang yang sering gegar otak membutuhkan waktu lebih lama untuk memproses informasi juga mengoordinir tangan-mata.
"Dalam balap motor, di mana Anda harus membuat keputusan sepersekian detik, jika waktu reaksi Anda hilang, Anda menempatkan diri dalam bahaya, dan jelas orang-orang di jalur Anda," ujarnya
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- Harga Beda Tipis: Mending Yamaha Gear Ultima, FreeGo atau X-Ride untuk Rumah Tangga?
Pilihan
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
-
Kapal Perang AS Dihantam 2 Rudal karena Coba Masuk Selat Hormuz, Klaim Iran
-
Teror di London: Penembakan Brutal dari Dalam Mobil, 4 Orang Jadi Korban
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
Terkini
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan
-
Kebutuhannya Berbeda dengan Dewasa, Ini 5 Alasan Si Kecil Perlu ke Dokter Gigi Anak
-
Cuma 30 Menit, Ini Rahasia Bonding Berkualitas di Tengah Kesibukan Orang Tua