- Pemeriksaan hormon standar sering tidak akurat karena metode imunologi kurang sensitif mendeteksi kadar hormon sangat rendah pada wanita dan anak.
- Diagnosis rumit karena hormon berinteraksi dengan metabolisme energi (siklus TCA), dan tes konvensional hanya mengukur satu hormon saja.
- Teknologi Mass Spectrometry (LC–MS/MS) kini menawarkan sensitivitas super dan analisis komprehensif hingga 140 biomarker.
Suara.com - Pernah merasa ada yang tidak beres dengan tubuhmu, tapi hasil pemeriksaan hormon dinyatakan normal? Kamu tidak sendirian. Banyak orang, terutama wanita dan anak-anak, mengalami keluhan seperti jerawat parah, siklus menstruasi tidak teratur, hingga masalah kesuburan, namun hasil laboratoriumnya tidak menunjukkan kelainan.
Hormon steroid seperti testosteron, estrogen, dan progesteron adalah "dirijen" utama yang mengatur metabolisme, energi, hingga suasana hati. Ketika keseimbangannya terganggu, tubuh pasti mengirim sinyal. Lalu, mengapa sinyal itu sering kali tidak terbaca oleh pemeriksaan standar?
Berikut empat alasan utama mengapa diagnosis masalah hormon sering kali rumit dan bagaimana teknologi baru bisa memberikan jawaban.
1. Pemeriksaan Standar 'Buta' terhadap Kadar Hormon Super Rendah
Di Indonesia, pemeriksaan hormon rutin umumnya menggunakan metode imunologi. Metode ini memang efektif untuk mengukur kadar hormon yang tinggi, seperti pada pria dewasa. Namun, metode ini punya kelemahan besar.
Tantangannya: Alat ini sering kali tidak cukup sensitif untuk membaca hormon dalam kadar sangat rendah, seperti hormon androgen pada wanita dan anak-anak. Akibatnya, kondisi penting seperti sindrom ovarium polikistik (PCOS), pubertas dini, atau jerawat hormonal sulit terdiagnosis secara akurat sejak awal.
2. Hormon Tidak Bekerja Sendirian, Ada 'Mesin Energi' yang Terlibat
Masalah hormon tidak sesederhana angka tinggi atau rendah. Menurut Prof. Dr. dr. Noroyondo Wibowo, Sp.OG, hormon berinteraksi erat dengan sistem metabolisme tubuh, terutama jalur yang disebut siklus TCA (Tricarboxylic Acid Cycle).
“Siklus TCA adalah mesin energi tubuh. Ketika jalur ini terganggu, produksi energi sel menurun dan metabolisme hormon ikut berubah. Perubahan kecil pada metabolit ini dapat mengubah cara tubuh memproduksi ataupun merespons hormon steroid,” jelas Prof. Noroyondo.
Baca Juga: Stop Asal Pilih! Ini 6 Kandungan Skincare Anti Jerawat yang Direkomendasikan Dokter Kulit
Artinya, jika hanya hormon yang diperiksa tanpa melihat "mesin energi" di baliknya, gambaran yang didapat tidak akan utuh.
3. Satu Sampel, Satu Hormon: Gambaran yang Terpotong-potong
Pemeriksaan konvensional sering kali hanya mengukur satu atau dua jenis hormon dalam satu waktu. Padahal, hormon bekerja layaknya sebuah orkestra. Gangguan pada satu hormon bisa jadi disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon lain.
Pemeriksaan yang terpisah-pisah ini membuat dokter sulit melihat pola interaksi ant hormon secara menyeluruh, sehingga diagnosis menjadi kurang presisi.
4. Teknologi Baru Ungkap Apa yang Terlewat: Era Multiomics
Untuk menjawab tantangan di atas, dunia medis kini beralih pada teknologi Mass Spectrometry (LC–MS/MS). Teknologi ini mampu mengukur molekul berdasarkan massa dan muatannya, memberikan hasil super presisi yang tidak mudah terpengaruh zat lain.
Teknologi inilah yang menjadi andalan di Prodia Clinical Multiomics Centre (PCMC). Keunggulannya adalah:
- Super Sensitif: Mampu membaca hormon dalam jumlah sangat kecil (pikogram), yang sering terlewat oleh metode konvensional.
- Komprehensif: Dapat memeriksa panel lima hormon sekaligus dalam satu kali pengambilan sampel.
- Melihat Lebih Dalam: Mampu mengukur lebih dari 140 biomarker, mulai dari asam amino, lipid, hingga vitamin, untuk melihat kondisi tubuh secara menyeluruh.
Dewi Muliaty, M.Si, Direktur Utama Prodia, menjelaskan bahwa pendekatan ini memungkinkan diagnosis dini dan strategi pengobatan yang lebih personal.
“Teknologi mass spectrometry ini bukan hanya mengenai genomik, tetapi juga multiomics lainnya untuk mengetahui kondisi tubuh secara menyeluruh dan membantu prediksi dini penyakit,” terang Dewi.
Berita Terkait
-
Tak Sekadar Mood Swing, Ini 4 Fase Perempuan yang Perlu Kamu Tahu!
-
Mengenal Teknologi Hematologi Sysmex XQ Series, Dapat Deteksi Dini Thalassemia
-
Pertama di Indonesia: Terobosan Berbasis AI untuk Tingkatkan Akurasi Diagnosis Kanker Payudara
-
Science of Sadness: Kenapa Hujan Bisa Bikin Kita Melankolis?
-
Stop Asal Pilih! Ini 6 Kandungan Skincare Anti Jerawat yang Direkomendasikan Dokter Kulit
Terpopuler
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
- Beredar 24 Nama Terseret Kasus BGN, Kuasa Hukum Sony Sonjaya: Nama Itu Sudah Diserahkan ke Penyidik
Pilihan
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
-
Mahasiswa Belum Muncul, Begini Kondisi Terkini Bundaran HI Jelang Aksi 12 Juni
Terkini
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut
-
Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?
-
Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?
-
Ancaman Tak Terlihat bagi Lingkungan Perairan: Residu Antidepresan Meningkat di Sungai
-
Layanan Ortopedi Dalam Negeri Kian Dekat dengan Standar Internasional
-
Pengembangan Vaksin Dalam Negeri Kian Maju, Perlindungan terhadap HPV Jadi Fokus
-
Mikroplastik Ada di Makanan, Minuman, hingga Udara: Seberapa Besar Risikonya bagi Kesehatan?